![]() |
| Sebanyak 10.298 mahasiswa baru mengikuti pembukaan PKKMB UNSRI Tahun Akademik 2026/2027 di Auditorium UNSRI, Kampus Indralaya, Rabu (12/8/2026). (Foto: IST) |
PUYANG - Sebanyak 10.298 mahasiswa baru Universitas Sriwijaya (UNSRI) resmi memulai perjalanan akademik melalui pembukaan Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) Tahun Akademik 2026/2027 di Auditorium UNSRI, Indralaya, Rabu (12/8/2026).
Rangkaian PKKMB tersebut dibuka oleh Rektor UNSRI, Prof. Dr. Taufiq Marwa, S.E., M.Si., serta dihadiri oleh perwakilan Wali Kota Palembang, perwakilan Bupati Ogan Ilir, perwakilan Pangdam II/Swj, perwakilan Kapolda, Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Selatan, perwakilan Kajati Sumsel, IKA UNSRI, pimpinan bank mitra UNSRI, serta para kepala sekolah SLTA di Sumatera Selatan.
Dalam sambutannya, Rektor menyampaikan selamat kepada para mahasiswa yang telah berhasil melewati proses seleksi dan memperoleh kesempatan untuk menempuh pendidikan di UNSRI setelah bersaing dengan ribuan pendaftar.
“Selamat datang di rumah kita, rumah baru kalian, rumah ilmu dan perubahan,” ujarnya.
Prof. Taufiq mengatakan, keberhasilan itu merupakan hasil dari proses panjang yang melibatkan kerja keras mahasiswa, doa, serta dukungan keluarga.
Oleh karena itu, kesempatan tersebut perlu diimbangi dengan kesungguhan dalam belajar, menjaga integritas, dan terus meningkatkan kemampuan.
Ia menjelaskan bahwa masa kuliah memiliki ruang yang lebih luas daripada sekadar memperoleh pengetahuan dan keterampilan. Mahasiswa dapat menggunakan masa tersebut untuk membangun karakter, melatih kepemimpinan, mengembangkan cara berpikir kritis dan kreativitas, serta menumbuhkan kepedulian terhadap persoalan di tengah masyarakat.
Menyoroti perubahan teknologi yang kian berkembang, Prof. Taufiq berpendapat bahwa kemajuan artificial intelligence (AI) telah membawa perubahan besar dalam aktivitas belajar mahasiswa.
Berbagai persoalan yang sebelumnya membutuhkan waktu panjang dan nalar yang kritis, kini dapat diselesaikan dengan mudah berkat teknologi, seperti membuat tulisan, menerjemahkan bahasa, mengolah data, hingga menyelesaikan masalah tertentu.
Oleh karena itu, kemudahan tersebut tetap harus diimbangi dengan kemampuan berpikir yang baik dan bijak.
“Gunakan teknologi, gunakan AI, belajarlah sebanyak mungkin. Tetapi jangan pernah menyerahkan kemampuan berpikir kalian kepada teknologi,” imbuhnya.
Lebih lanjut, mahasiswa juga didorong untuk melatih keberanian, menumbuhkan rasa ingin tahu, melatih sikap kritis, serta tak takut menghadapi kegagalan.
Berbagai sarana dan kegiatan di UNSRI diharapkan dapat dimanfaatkan secara maksimal. Mahasiswa dapat mengembangkan pengalaman melalui laboratorium, pusat riset, organisasi kemahasiswaan, kompetisi, kegiatan kewirausahaan, pengabdian kepada masyarakat, olahraga, maupun seni. Berbagai aktivitas tersebut dinilai dapat mendukung pembentukan karakter sekaligus kemampuan kepemimpinan.
Dalam menjalani kehidupan kampus, Prof. Taufiq mengingatkan pentingnya integritas. Kejujuran dalam kegiatan akademik, kedisiplinan, tanggung jawab, serta sikap menghargai perbedaan menjadi nilai yang perlu dijaga mahasiswa selama menempuh pendidikan.
“Tidak ada keberhasilan yang bernilai jika diperoleh dengan mengabaikan etika,” tegasnya.
Dengan latar belakang mahasiswa yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia, keberagaman di lingkungan UNSRI diharapkan dapat menjadi kekuatan untuk membangun persaudaraan. Mahasiswa juga didorong untuk saling menghormati dan mengambil peran sebagai bagian dari generasi yang menjaga persatuan bangsa.
Prof. Taufiq turut mengingatkan agar pengetahuan yang diperoleh selama berkuliah tidak berhenti pada pencapaian pribadi, melainkan berdampak bagi masyarakat. Setiap penelitian diharapkan dapat memberikan solusi, inovasi, sera manfaat bagi Sumatera Selatan, Indonesia, hingga kancah internasional.
Pada kesempatan tersebut, Rektor kembali menegaskan bahwa PKKMB UNSRI diselenggarakan dalam suasana yang mengedepankan kekeluargaan dan persaudaraan.
Seluruh bentuk perpeloncoan, pelecehan, perundungan, eksploitasi, kekerasan, maupun tindakan yang merendahkan martabat mahasiswa tidak diperbolehkan dalam rangkaian kegiatan.
“Seluruh rangkaian PKKMB telah disusun dan dijadwalkan secara resmi oleh universitas dan fakultas sehingga tidak boleh ada kegiatan lain yang mengatasnamakan PKKMB di luar agenda resmi,” lanjutnya.
Pembukaan PKKMB juga diisi orasi ilmiah oleh Wakil Ketua Umum Persatuan Insinyur Indonesia (PII), Prof. Dr. Ir. Agus Taufik Mulyono, S.T., M.T., IPU., ASEAN-Eng., APEC-Eng., yang merupakan Guru Besar Universitas Gadjah Mada.
Dengan mengangkat tema “Menempuh Kehidupan Kampus Universitas Sriwijaya pada Era Digital dalam Rangka Pengembangan Jati Diri dan Karakter Mahasiswa”, Prof. Agus Taufik mengajak mahasiswa memandang masa pendidikan sebagai kesempatan untuk mempersiapkan diri menghadapi berbagai perubahan di masa depan.
Ia menyampaikan bahwa perkembangan AI dan transformasi digital bukan satu-satunya tantangan yang akan dihadapi generasi muda. Bonus demografi, kompetisi global, perubahan iklim, persoalan lingkungan, integritas dan kualitas kepemimpinan, serta ketahanan pangan, energi, air, dan infrastruktur juga menjadi persoalan yang membutuhkan kesiapan generasi muda.
“Mahasiswa sebagai generasi muda memiliki peran penting sebagai agen perubahan dalam transformasi peradaban bangsa. Karena itu, mahasiswa perlu memiliki karakter humanistik, mampu beradaptasi dengan teknologi digital, menjadi pemimpin yang solutif dan berintegritas, serta mampu menjaga persatuan dalam keberagaman,” ujarnya.
Dalam penggunaan AI, Prof. Agus Taufik mengibaratkan teknologi tersebut sebagai kopilot yang membantu manusia, bukan autopilot yang mengambil alih seluruh proses berpikir di dalamnya.
“AI dapat membantu mempercepat proses belajar, mencari referensi ilmiah, melatih kemampuan menulis, mengembangkan ide inovatif, hingga membantu proses riset. Namun, mahasiswa tetap harus menggunakan kemampuan berpikir kritis dan melakukan verifikasi terhadap informasi yang diperoleh,” ucapnya.
Ia menekankan bahwa kemampuan dapat terus dipelajari, sedangkan karakter harus dibentuk melalui kebiasaan dan pengalaman.
Oleh karena itu, mahasiswa perlu memiliki integritas, sikap humanistik, disiplin diri, rasa ingin tahu, kemauan belajar dan bekerja keras, kemampuan bekerja sama, tanggung jawab, kepedulian, serta kepemimpinan yang dapat dipercaya.
Prof. Agus Taufik juga mengingatkan mahasiswa agar hasil akhir pendidikan tidak hanya berupa ijazah. Selama berada di UNSRI, mahasiswa perlu memperkaya diri dengan kompetensi akademik, kemampuan bahasa Inggris, literasi AI dan kemampuan beradaptasi secara digital, pengalaman organisasi, sertifikasi kompetensi, pengalaman penelitian, magang, jejaring profesional, serta berbagai prestasi di tingkat nasional dan global.
Menutup orasinya, Prof. Agus Taufik mengajak mahasiswa memikirkan kontribusi yang dapat mereka berikan kepada bangsa melalui ilmu yang akan dipelajari beberapa tahun kedepan.
Ia mendorong mahasiswa UNSRI agar menjadi pribadi yang berpikir kritis untuk beradab, berintegritas untuk humanistik, adaptif dan futuristik terhadap teknologi, peduli kepada masyarakat, serta siap memimpin Indonesia.
Kemeriahan pembukaan PKKMB UNSRI 2026 turut ditandai dengan pemutaran karya mahasiswa baru berupa video papermob berjudul “Dipta Asteria Sriwijaya – Bintang yang Bercahaya Gemilang dari Tanah Sriwijaya.”
Karya tersebut menunjukkan kreativitas dan kekompakan mahasiswa baru dalam menyambut awal kehidupan mereka sebagai bagian dari keluarga besar UNSRI.
Selain itu, UNSRI juga mencatatkan Rekor MURI untuk donasi buku dengan jumlah sivitas akademika terbanyak yang terlibat, yakni 8.157 orang.
Buku-buku yang terkumpul selanjutnya akan diberikan kepada sejumlah sekolah di Sumatera Selatan sebagai bentuk kepedulian sivitas akademika UNSRI dalam mendukung budaya literasi sekaligus memberikan kontribusi sosial.
Sebagai penutup rangkaian pembukaan, BEM tingkat universitas dan fakultas bersama mahasiswa baru mengikuti deklarasi bersama. Deklarasi tersebut berisi komitmen untuk menolak perpeloncoan, narkotika, maksiat, pelecehan seksual, kekerasan seksual, dan radikalisme, demi mempertahankan lingkungan pendidikan yang nyaman dan kondusif. (*)
