terkini

Belajar Bahasa Palembang: Bunyi Vokal dan Konsonan dalam Baso Pelembang

Friday, February 13, 2026, Friday, February 13, 2026 WIB Last Updated 2026-02-13T14:00:00Z

 

Jembatan Ampera Palembang. (Foto: Puyang)

A. Bunyi Vokal


Bunyi vokal ialah bunyi bahasa yang semata-mata dibentuk oleh getar udara pad selaput suara. Bunyi vokal dapat dibedakan atas (1) vokal tunggal, (2) vokal tanya. Vokal tunggal ialah bunyi vokal yang hanya melahirkan satu bunyi bahasa saja misalnya a, 1 u, e, dan o.


1. Dalam Baso Pelembang cukup banyak kata-kata yang menggunakan bunyi vokal tunggal, a, i, u, e, dan o. Seperti: a dalam kata ayun, i dalam kata niki, niku, u dalam kata uleman, e dalam kata uleman, o dalam kata wong dan sebagainya.


2. Ada juga bunyi e berubah menjadi é dalam kata dereng yang dalam Bahasa Indonesia berarti belum, untuk itu digunakan simbol huruf é.


3. Vokal rangkap ialah gabungan dua bunyi vokal tunggal, misalnya ie, ei, ou, uo, a au oi, ae Dalam Baso Pelembang, sebagai bahasa tutur, cukup banyak penggunaan bunyi vokal rangkap. Kadang kita mengalami kesulitan untuk menampilkannya dalam bahasa tulis. 


Untuk mengatasi kesulitan ini, penulis menggunakan huruf tunggal untuk mengekspresikan suara vokal rangkap tersebut Sebagaimana penjelasan di bawah ini:


a. Lambang i (i bertudung) untuk bunyi rangkap je, seperti pada kala kati yang berarti ada. Digunakan huruf (1) bukan (e) karena dalam gabungan suara ini, bunyi suara i lebih dominan daripada suara e, diakhiri dengan tanda aposrofi (). tanda hamzah dalam aksara Arab.


b. Lambang è (e bertudung) untuk bunyi rangkap ei, seperti pada kaly karena dalam gabungan suara ini, bunyi suara e lebih dominan daripada suara i.


c. Lambang o (o bertudung) untuk bunyi rangkap ou, seperti pada kata rawõ yang berarti datang. Digunakan lambang huruf (6) bukan (0), karena dalam gabungan suara ini, bunyi suara o lebih dominan daripada u.


d. Lambang ů (u bertudung) untuk bunyi rangkap uo, seperti pada kata sugi yang berarti kaya. Digunakan bentuk huruf ü bukan ô, karena dalam gabungan suara ini, bunyi suara u lebih dominan daripada o. Sedangkan huruf h diakhir kata sugih tidak ditulis, karena dalam logat Baso Pelembang suara h itu tidak terdengar.


B. Bunyi Konsonan


Bunyi konsonan ialah bunyi bahasa yang terbentuk di daerah artikulasi, suatu daerah dalam rongga mulut, tempat membentuk bunyi desah (konsonan), yaitu (1) bibir atas-bibir bawah; (2) gigi atas-gigi bawah, (3) lengkung kaki gigi, (4) langit-langit keras, (5) langit-langit lembut, (6) anak tekak, (7) ujung lidah, (8) daun lidah, (9) belakang lidah.


Bunyi konsonan dapat dibedakan menjadi (1) konsonan lembut, (2) konsonan tajam.


Konsonan lembut, ialah bunyi-bunyi konsonan yang dibentuk oleh desah dan suara Ketika terbentuknya, selaput suara turut bergetar b, d, g, kh, j, m, u, l, ny, ng, dan z.


Konsonan tajam ialah bunyi-bunyi konsonan yang se-mata-mata dibentuk oleh desah pada daerah artikulasi. Ketika terbentuknya selaput suara tidak turut bergetar k, p. 1, 5, c.

Komentar
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. #JernihBerkomentar
  • Belajar Bahasa Palembang: Bunyi Vokal dan Konsonan dalam Baso Pelembang

Terkini