
Tampak depan Gereja Katolik Paroki St. Yoseph Palembang (Foto: Tim Peliputan).
PUYANG - Gereja Katolik Santo Yoseph Palembang merupakan salah satu destinasi wisata religi yang cukup dikenal di Sumatera Selatan.
Terletak strategis di Jalan Jenderal Sudirman, tepat di depan Rumah Sakit RK Charitas, gereja ini tak hanya menjadi pusat ibadah umat Katolik, tetapi juga terbuka untuk umum sebagai tujuan wisata.
Menurut Sujadi Yanto (67), salah satu pengurus sekaligus Humas Gereja Katolik Santo Yoseph, gereja ini berdiri sejak tahun 1967 dan merupakan gereja terbesar di bawah Keuskupan Agung Palembang.
"Wilayahnya meliputi Palembang, Bengkulu, Lubuklinggau, Lahat, dan Jambi. Saat ini dipimpin oleh Monsinyur Johannes Harun Yuwono,” ungkapnya.
Sujadi juga menjelaskan bahwa ada delapan paroki utama di bawah Keuskupan Agung Palembang, termasuk Gereja Katolik Santo Yoseph, Katedral Santa Maria, Paroki Seberang Ulu, Santa Perawan Maria, Santo Paulus di Plaju, Santo Stefanus di Kelam Tutu, Santo Petrus di Kenteng, Hati Kudus di Tutu, Santo Petrus di Kenteng, serta Hati Kudus di Olah Armo.
Selain itu, terdapat paroki tambahan di Sekayu, Sungai Lilin, dan Prabumulih.
Sebagai pengurus, Sujadi aktif dalam kegiatan non-liturgi, seperti menjalin hubungan dengan komunitas lintas agama serta pemerintah.
Ia juga menjelaskan bahwa kegiatan utama di gereja ini adalah misa kudus yang diadakan setiap Sabtu sore dan tiga kali pada hari Minggu, yakni pukul 06.30, 08.30, dan 17.00.
"Kami juga menyiarkan misa secara daring agar umat yang tidak bisa hadir tetap bisa mengikuti ibadah," tambahnya.
Gereja ini dapat dikunjungi setiap hari dari pukul 05.00 pagi hingga 22.00 malam. Sementara operasional kantor gereja bukan mulai 08.00 hingga 14.00 siang. Fasilitas umum yang tersedia ada toilet umum, sistem siaran video, serta akses misa daring.
Gereja Santo Yoseph disebut sebagai tempat wisata religi karena lokasinya yang strategis, ukuran bangunan yang megah, serta keterbukaannya terhadap pengunjung dari luar daerah.
Sujadi menegaskan bahwa tidak ada biaya masuk bagi pengunjung, dan kolekte yang dikumpulkan bersifat sukarela serta digunakan untuk operasional gereja.
Dalam satu harinya gereja ini bisa dikunjungi sekitar 200 hingga 300 orang. Namun, jumlah itu bisa meningkat menjadi ribuan orang pada akhir pekan.
"Apalagi saat misa, banyak umat datang bersama keluarga," katanya.
Gereja Santo Yoseph juga aktif dalam progam sosial, terutama membantu anak-anak yang kurang mampu agar bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang SMA.
"Kami mengelola dana dari umat dan bekerja sama dengan RT, kelurahan, dan kecamatan untuk kegiatan sosial," jelasnya.
Sujadi turut mengungkapkan rencana pihak gereja kedepannya untuk membangun area parkir bertingkat. Namun, proyek ini masih terkendala biaya.
Sebagai penutup, Sujadi berharap para pengunjung dapat mematuhi aturan dan menjaga kenyamanan saat berkunjung ke gereja.
"Kami terbuka untuk umum, tapi tentu harus tetap saling menghormati," tutupnya. (Daffa Aqilah Febriyani)