.jpg)
Pengunjung memperhatikan ukiran ayat suci Al-Quran di Bayt Al-Qur’an Al-Akbar. (Foto: Daffa Aqilah Febriyani)
PUYANG - Terletak di Jalan M Amin Fauzi, Gandus, Kota Palembang, Bayt Al-Qur’an Al-Akbar menjadi salah satu destinasi religi yang menyimpan kisah panjang dan penuh inspirasi.
Biasa disebut sebagai “rumah Al-Qur’an besar,” sebagaimana makna dari namanya: Bayt yang berarti rumah, Al-Qur’an adalah kitab suci, dan Al-Akbar berarti besar.
Menurut Syarkoni (49), pemandu sekaligus pengurus Bayt Al-Qur’an Al-Akbar, bangunan ini awalnya merupakan rumah milik Ustaz H. Syofwatillah, sosok penggagas ide besar di balik lahirnya Al-Qur’an raksasa tersebut.
“Jadi ini bukan museum yang menyimpan peninggalan sejarah. Ini adalah tempat untuk menampilkan karya besar Al-Qur’an yang ditulis dan diukir dengan tangan,” ungkap Syarkoni.
Inspirasi awal muncul saat Syofwatillah tengah membuat kaligrafi di Masjid Agung Palembang. Dalam suatu malam, ia mendapatkan mimpi atau petunjuk untuk menulis Al-Qur’an.
Kala itu Syofwatillah bukanlah orang berada. Modal awalnya hanyalah surah Al-Fatihah yang dibuat dengan mengorbankan cincin pernikahan istrinya.
Ia pernah berjualan pempek, menjadi kenek angkot, hingga mengajar ngaji di perumahan elit Polygon. Meski kondisi finansialnya terbatas, semangatnya tak pernah pudar.
Titik balik datang saat ia terpilih menjadi anggota DPRD Kota Palembang pada tahun 2004–2009. Penghasilan yang ia miliki digunakan untuk membiayai penulisan dan pembuatan Al-Qur’an.
Pada periode 2009–2014 dan 2014–2019, Syofwatillah bahkan terpilih sebagai anggota DPR RI. Namun sejak tidak terpilih kembali di tahun 2019, ia membuka travel haji dan umroh yang justru semakin membuka pintu rezekinya.
“Penulisan Al-Qur’an raksasa ini bukan kerja satu orang. Ada tim penulisan, penjiplakan, pengukiran, finishing, pengecatan, hingga pentashih atau pengecekan isi,” lanjut Syarkoni.
Dengan total 315 keping kayu, proses pembuatan satu kepingnya bisa memakan waktu hingga satu bulan. Lantai dasar bangunan memuat juz 1 hingga 15, sementara lantai dua yang merupakan bagian rumah Syofwatillah menyimpan juz 16 sampai 30.
Tidak hanya menyuguhkan kemegahan visual, Bayt Al-Qur’an juga menjadi pusat kegiatan keagamaan. Sebelum pandemi COVID-19, berbagai lomba seperti kaligrafi, qori/qoriah, hadroh, hingga lomba pempek pernah digelar.
Kini meski kegiatannya belum sepenuhnya aktif kembali, pengajian rutin tetap berlangsung. Bahkan, tempat ini juga digunakan sebagai lokasi akad nikah, dan menjadi sumber ekonomi mandiri melalui penyewaan pakaian adat serta area berjualan.
Untuk menjaga keindahan ukiran kayu, tim hanya melakukan pengecatan ulang jika warna mulai pudar. Jika masih baik, cukup dibersihkan dengan kemoceng atau dilap dengan pernis. Biasanya perawatan besar akan dilakukan menjelang Ramadan atau hari besar Islam.
Tujuan dari pembangunan Bayt Al-Qur’an ini tak sekadar memperindah atau menarik wisatawan, tapi memiliki misi besar seperti membentengi generasi muda dari pengaruh buruk digitalisasi, menyemarakkan syiar Islam, serta mengubah citra negatif terhadap masyarakat Palembang.
“Ini bukti kalau wong Palembang juga bisa berkarya untuk nusa, bangsa, dan agama,” ujar Syarkoni.
Kedepannya, Syofwatillah bercita-cita untuk membangun gedung setinggi 10 hingga 11 lantai, di mana setiap lantai akan memuat tiga juz, dan lantai teratas difungsikan sebagai ruang itikaf. Namun, semuanya tentu tergantung pada usia, kesehatan, dan rezeki yang datang.
Di akhir wawancara, Syarkoni menyampaikan harapan besar agar pemerintah turut mendukung, khususnya dalam perihal akses jalan dan keamanan.
“Kalau bukan kita masyarakat Palembang, siapa lagi yang akan menghargai dan merawat karya ini. Anggaplah sebagai tugas kita bersama,” tutupnya. (Putri Ayu Kharisma)