![]() |
| Proses Pembuatan Songket di Museum Songket. (Foto: Daffa Aqilah Febriyani) |
PUYANG - Kain songket Palembang merupakan salah satu warisan budaya yang tak hanya memiliki nilai estetika tinggi, tetapi juga makna dan sejarah yang panjang.
Songket khas Palembang sudah dikenal sejak masa kerajaan Sriwijaya dan terus dilestarikan hingga saat ini meskipun zaman terus berubah.
Menurut Imron (35), selaku pengelola Museum Songket Palembang, kain songket memiliki keunikan tersendiri dibandingkan kain-kain tradisional dari daerah lain.
"Motif songket Palembang itu terakulturasi oleh budaya luar yang masuk seperti Cina, India, dan Arab. Motifnya pun dari dulu hingga sekarang tetap sama, dan jumlah motifnya kurang lebih ada 32," jelasnya saat diwawancarai di museum yang telah berdiri selama 12 tahun.
Imron menyebutkan, ada beberapa motif songket yang terkenal antara lain naga besaung (naga petarung), nampan perak, bintang beranting, biji pare, dan bunga cina. Salah satu motif yang memiliki makna kuat adalah naga besaung.
"Motif ini dulunya hanya dipakai oleh raja karena naga dianggap makhluk kuat dan tak terkalahkan. Sekarang motif ini sering digunakan pada baju adat pernikahan karena pengantin dianggap raja dan ratu dalan sehari," jelasnya.
Dahulu, kain songket hanya boleh digunakan oleh kalangan bangsawan, raja, dan pemilik gelar di Palembang. Penggunaannya pun terbatas hanya pada acara tertentu saja. Tetapi kini siapapun sudah bisa memakai songket sebagai bagian dari pelestarian budaya.
Bahan dasar songket masih sama seperti dulu, yaitu benang sutra dengan benang emas. Namun, Imron menambahkan bahwa benang emas yang digunakan saat ini bukan lagi emas asli seperti zaman dahulu.
Harga songket pun bervariasi tergantung dari motif, ukuran, dan lama proses pengerjaannya. Beberapa motif seperti songket lepus (motif penuh satu warna) lebih cepat di buat dibanding motif songket limar yang memiliki banyak warna dan membutuhkan ketelitian dalam membuatnya.
"Motif Limar itu benangnya dimasukan satu per satu, dan harus disesuaikan warnanya. Jadi pengerjaannya lebih rumit," tambahnya.
Salah satu tantangan besar dalam pelestarian songket di zaman sekarang adalah sumber daya manusia. Di tengah kemajuan teknologi, proses pembuatan songket tetap dilakukan secara manual 100%.
"Songket tidak bisa dibuat dengan mesin atau digital, memang sekarang ada yang 80% menggunakan mesin dan 20% tangan manusia, tapi nilainya tidak sama dengan yang dibuat manual," jelasnya.
Menariknya, songket Palembang juga sering tampil di berbagai acara internasional. Imron mengatakan, Pak Zainal selaku pemilik museum sering memperkenalkan songket ke luar negeri.
"Respon orang luar sangat luar biasa karena mereka kagum kita masih membuat kain dengan cara tradisional seperti ini," katanya
Di akhir wawancara Imron menyampaikan pesan agar generasi muda terus melestarikan budaya lokal.
"Kalau kita tidak peduli, jangan salahkan orang lain kalau budaya kita diambil. Kita harus bangga dan menjaga warisan leluhur," tutupnya. (Daffa Aqilah Febriyani)
.jpeg)