.jpg)
Replika Prasasti Talang Tuwo di Museum Balaputeradewa. (Foto: Nazayla Putri)
PUYANG - Sebagai Kota yang menjadi pusat pemerintahan Kerajaan Sriwijaya, tak heran mengapa banyak peninggalan seperti Archa dan Prasasti yang ditemukan di Palembang.
Salah satu diantaranya yang cukup terkenal adalah Prasasti Talang Tuwo dari masa Kedatuan Sriwijaya yang dulunya ditemukan di Talang Tuwo, sebelah Barat Kota Palembang yang kini termasuk dalam wilayah kelurahan Talang Kelapa, Kecamatan Alang-alang Lebar.
Ketua Umum Komunitas Pecinta Sejarah UIN Raden Fatah Palembang, Alif Athillah (20), menggambarkan bahwa dulunya Prasasti Talang Tuwo menceritakan tentang Taman Terbuka yang dibangun oleh Dapunta Hyang Srijayanasa, seorang Datu Pertama di Kedatuan Sriwijaya pada masa itu.
Prasasti ini sendiri dianggap sebagai bentuk perwujudan dari cinta kasih sang Datu kepada rakyat dan semua makhluk yang ada, serta upaya perlinduangan terhadap lingkungan yang merupakan tempat dimana manusia berpijak.
“Prasasti Talang Tuwo ini erat sekali kaitannya dengan Kedatuan Sriwijaya. Bisa dibilang Prasasti ini adalah sumber utama dari eksistensi kedatuan sriwijaya pada saat itu,” jelasnya.
Alif sendiri pernah melihat langsung bagaimana bentuk dari Prasasti Talang Tuwo ketika menghadiri suatu seminar di Museum Balaputeradewa. Menurutnya, desain dari Prasasti tersebut cukup sederhana namun tetap fungsional.
“Secara bentuk, prasasti ini bisa dibilang cukup simple karena fungsinya sebagai prasasti yang menginformasikan sesuatu yang cenderung tidak terlalu panjang. Permukaannya tertulis aksara pallawa, aksara tertua di nusantara ini,” imbuh Alif.
Ia menambahkan, fungsi utama dari Prasasti Takang Tuwo dari sisi Historisnya adalah sebagai bukti bahwa Kedatuan Sriwijaya itu benar-benar ada dan berlokasi di Kota Palembang.
Lebih dari itu, jika dilihat sekarang, Prasasti Talang Tuwo bisa menjadi arsip saat masyarakat hendak melihat dan mempelajari kisah dari masa lampau.
Sebagai penggiat Komunitas Sejarah, ia merasa akan sangat menarik jika diberikan kesempatan untuk mempromosikan Prasasti tesrebut.
Alif mengatakan ia akan memulainya dengan pengkajian yang lebih dalam mengenai keasliannya dan fokus pada keautentikannya. Lalu langkah selanjutnya adalah menarik minat lebih banyak orang melalui Aksara Modern yang terdapat di permukaannya.
“Kalau saya pribadi mau dikaji lebih dalam dulu mengenai keasliannya di Museum tersebut. Langkah selanjutnya adalah dengan alih aksara modern, agar banyak orang-orang yang mengetahui isi dari prasasti itu,” ujar Alif.
Kedepannya, ia berharap agar versi asli dari Prasasti Talang Tuwo dapat diketahui secara pasti dimana keberadaannya, kemudian lebih ditonjolkan lagi sisi historinya kepada khalayak luas.
“Saya harap Prasasti ini lebih ditekankan dari segi historisnya dengan mempromosikan kepada siswa-siswa melalui buku sejarah mereka,” tutupnya. (Nazayla Putri)