.jpg)
Lukisan Serangan Balas Front Prabumulih Pada Agresi Belanda I Tahun 1947 di MONPERA. (Foto: Nazayla Putri)
PUYANG - Lukisan, bukanlah sekadar coretan tak bermakna di atas kanvas, melainkan seni yang terkadang memuat kisah berharga dan luar biasa di baliknya.
Bayangkan seberapa luar biasanya gores dan cat warna hingga mampu menggambarkan kejadian yang dulunya hanya bisa direkam lewat mata, kini bisa dinikmati dari masa ke masa.
Begitupula dengan salah satu koleksi yang ada di Monumen Perjuangan Rakyat Sumatera Bagian Selatan (MONPERA SUMBAGSEL), yaitu Lukisan Serangan Balas Front Prabumulih pada Agresi Belanda Ke-I tahun 1947 silam, 2 tahun pasca kemerdekaan Indonesia.
Muhammad Romiansyah (21), Tour Guide MONPERA menyebutkan bahwa lukisan tersebut merupakan lukisan asli yang menggambarkan seberapa keosnya keadaan saat itu.
“Itu lukisan asli yang dibuat oleh seniman Sumatera Selatan di tahun 1988,” ungkapnya.
Ketika memasuki MONPERA, para pengunjung akan dibuat salah fokus akan lukisan besar yang terpampang di sebelah kanan, tepat di sebrang meja Guide untuk pendaftaran.
Itulah lukisan Serang Balasan Front Prabumulih Pada Agresi Belanda Ke-I Tahun 1947.
Romi menjelaskan, lukisan tersebut menceritakan para tentara Republik Indonesia yang ingin menunjukkan pemberontakan dan memperjuangkan kemerdekaan terhadap Agresi Belanda, dimana Agresi tersebut bertujuan untuk merebut wilayah-wilayah strategis di Jawa dan Sumatera.
Merasa geram dan tak terima, Tentara Indonesia berusaha mencegat kedatangan kereta Belanda yang hendak melaju dari Palembang menuju Prabumulih dengan memasang ranjau darat di relnya.
Setelah kereta api tersebut melintas tepat diatas rel yang sudah dipasang ranjau, kereta terombang-ambing keluar dari rel dan terjadilah baku tembak antara pasukan Belanda dan pasukan Indonesia.
Saat itu Tentara Republik Indonesia meneriakkan slogan “Merdeka atau Mati!”, yang menunjukkan seberapa besar semangat dan tekad mereka untuk meraih kemerdekaan.
“Nah untuk lukisan di lantai 1 kisahnya berhenti sampai disana, tapi berlanjut ke lukisan di lantai 5 yang menggambarkan keadaan tentara RI yang kekurangan amunisi dan terpaksa mundur ke sebuah desa,” lanjut Romi.
Ia menambahkan, lukisan di lantai 5 tersebut berisi gambaran para warga desa yang menyambut kedatangan tentara Republik Indonesia dengan menyajikan hasil bumi seperti pisang, nangka, ubi dan juga makanan ciri khas mereka yaitu lupis.
Romi turut berpendapat, alasan Tentara Republik Indonesia menyerukan slogan “Merdeka atau Mati!” saat itu adalah untuk memacu semangat juang dalam diri mereka.
Slogan tersebut menunjukkan tekad yang kuat untuk mempertahankan kemerdekaan dan mengusir para penjajah yang hendak merampas hak dan kewajiban rakyat di atas tanah sendiri.
Menurutnya, pesan moral yang ingin disampaikan melalui lukisan tersebut yaitu untuk menunjukkan bagaimana kerasnya dan panjangnya proses untuk bebas dari tangan penjajah, serta menjadikannya motivasi untuk mempertahankan kemerdekaan yang susah payah telah didapatkan.
“Mungkin semangat juang pejuang pada saat itu ya yang ingin disampaikan. Biar semua generasi bisa melihat, mengenang dan mempelajarinya. Menjadikannya motivasi dan salah satu contoh untuk terus mempertahankan kemerdekaan di era yang berbeda,” tutup Romi. (Nazayla Putri)