.jpg)
Lukisan Jendral Haji Bambang Utoyo yang ada di MONPERA. (Foto: Nabilla Hidayati)
PUYANG - Salah satu pahlawan yang namanya abadi di Museum Monumen Perjuangan Rakyat (MONPERA) adalah Jendral Haji Bambang Utoyo.
Muhammad Romiansyah (21), Tour Guide MONPERA membagikan kisah hidup tokoh yang berperan penting di Perang Lima Hari Lima Malam tersebut.
“Bambang Utoyo tumbuh di tengah situasi politik yang penuh gejolak akibat penjajahan Belanda. Sejak muda, ia dikenal sebagai pribadi disiplin, berani, dan memiliki tekad kuat untuk mengabdi pada tanah air,” ungkapnya.
Ia lahir dari pasangan Bapak Bawadiman Hardjosapoetro dan Ibu Umsijah di Tuban Jawa Timur, pada tanggal 20 Agustus 1920 silam.
Ketika Jepang menduduki Indonesia pada tahun 1942, Bambang Utoyo bergabung dengan PETA (Pembela Tanah Air). Menurut Romi, keputusan itu lah yang menjadi titik awal terbentuknya jiwa kepemimpinan sosok Bambang Utoyo.
“Di PETA itu beliau dilatih keras. Beliau belajar strategi tempur, kepemimpinan, dan disiplin. Dan itu terbukti berguna waktu kemerdekaan sudah diproklamasikan,” kata Romi.
Usai Proklamasi 17 Agustus 1945, situasi Sumatra Selatan memanas. Pasukan Sekutu yang diboncengi NICA (Netherlands Indies Civil Administration) atau Pemerintahan Sipil Hindia Belanda berusaha menguasai kembali Palembang dan daerah sekitarnya.
Menghadapi situasi tersebut, Bambang Utoyo bergegas memimpin pasukan rakyat untuk mempertahankan wilayah. Ia berada di garda terdepan dalam Agresi Militer Belanda I 1947 dan Agresi Militer Belanda II 1948.
“Beliau nggak cuma memimpin dari belakang. Bambang Utoyo ikut turun ke medan tempur, memotivasi prajurit, bahkan ikut dalam taktik penyergapan,” jelasnya.
Keterbatasan persenjataan tidak membuat pasukannya menyerah. Bambang Utoyo mengandalkan taktik gerilya dengan memanfaatkan hutan, rawa, dan sungai untuk mengecoh musuh.
“Belanda waktu itu punya senjata canggih, kita kalah dari sisi perlengkapan. Tapi strategi beliau membuat Belanda kesulitan menembus pertahanan rakyat,” tambah Romi.
Setelah masa revolusi, Bambang Utoyo terus mengabdi di dunia militer. Ia dipercaya memimpin Kodam II Sriwijaya dan menempati sejumlah jabatan strategis di TNI.
Bagi Romi, pengabdian Bambang Utoyo bukan hanya soal jabatan, melainkan dedikasi dan ketulusan.
“Beliau itu dekat dengan rakyat. Sering datang ke desa-desa, ngobrol sama warga, dan memotivasi anak-anak muda supaya mau sekolah dan membela bangsa. Itu yang bikin beliau dihormati, bukan cuma karena pangkatnya,” ujarnya.
Namun disayangkan, perjalanan hidup Bambang Utoyo berakhir tragis pada 23 Mei 1965. Ia gugur dalam peristiwa Politik yang penuh gejolak menjelang era pergantian kekuasaan di Indonesia.
Pahlawan yang kini kita kenal sebagai Jendral Haji Bambang Utoyo itu wafat di rumah sakit Universitas Kliniken Venus Berg Bonn, Jerman Barat. Ia lalu dikebumikan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta.
“Buat kami di museum, yang paling penting itu mengenang jasa dan pengorbanannya. Beliau itu pejuang sejati yang berjuang sampai titik darah penghabisan,” tutup Romi. (Nabilla Hidayati)