![]() |
| Lukisan Brigadir Jendral Hasan Kasim di MONPERA. (Foto: Nabilla Hidayati) |
PUYANG - Di buku-buku sejarah Sumatra Selatan, nama Hasan Kasim digambarkan sebagai tokoh pejuang kemerdekaan dengan semangat juang tinggi.
Di Museum Monumen Perjuangan Rakyat (MONPERA) Palembang, kisahnya abadi dan dijaga untuk diceritakan dari generasi ke generasi.
Menurut Muhammad Romiansyah (21), tour guide MONPERA, Hasan Kasim merupakan salah satu pejuang yang ikut terlibat langsung dalam peristiwa penting setelah Proklamasi Kemerdekaan, terutama pada masa Agresi Militer Belanda II.
“Hasan Kasim dikenal sebagai pejuang lapangan yang tidak hanya mengatur strategi, tapi turun langsung dalam pertempuran. Ia berada di garis depan bersama para pasukan rakyat, berjuang mempertahankan Palembang dari serangan Belanda,” ungkap Romi.
Hasan Kasim lahir di Cempaka, Martapura pada 12 Juni 1912. Sejak muda ia sudah menunjukkan jiwa nasionalis dan keberanian yang tinggi.
Menurut arsip yang tersimpan di Museum, Hasan Kasim terlibat aktif dalam organisasi pergerakan rakyat dan turut membantu pelaksanaan di lapangan bersama para pejuang.
"Peran terbesarnya tercatat dalam pertempuran mempertahankan Jembatan Ampera dan kawasan strategis di tepian Sungai Musi," lanjutnya.
Keberanian Hasan Kasim dibuktikan ketika ia berhasil menyelamatkan sejumlah pejuang yang terjebak di wilayah musuh.
"Aksi tersebut dilakukan di tengah gempuran tembakan, menunjukkan kesetiaan yang luar biasa terhadap kawan seperjuangan," ujar Romi..
Di akhir masa hidupnya, Hasan Kasim ditunjuk menjadi Komisaris PT. PUSRI sejak 16 Juli 1981. Setelah wafat pada 16 Oktober 1985 namanya kini abadi di Museum Monumen Perjuangan Rakyat (MONPERA) Palembang.
“Yang terpenting adalah pengorbanannya. Banyak pejuang yang tidak kita kenal secara lengkap kisah hidupnya, tapi mereka semua adalah bagian dari alasan kita bisa hidup merdeka sekarang,” tambahnya.
Bagi Romi,, mengenang sosok Hasan Kasim sama saja dengan mengingat bahwa kemerdekaan bukanlah hasil dari satu orang saja, melainkan dari ribuan bahkan jutaan orang yang berjuang untuk meraih kemerdekaan.
“Kita mungkin tidak akan bisa membalas jasa beliau, tapi kita bisa menjaga cerita ini agar tidak hilang,” tutupnya. (Nabilla Hidayati)
.jpg)