.jpg)
Lukisan Kolonel Haji Barlian di Museum MONPERA. (Foto: Nabilla Hidayati)
PUYANG - Kisah heroik para pejuang kemerdekaan memang tak ada habisnya. Untuk mengenang jasa dan pengorbanan yang luar biasa, nama mereka diabadikan dalam arsip Museum yang berharga.
Salah satunya adalah Kolonel Haji Barlian, seorang pejuang yang mendedikasikan hidupnya untuk mempertahankan wilayah Palembang dan sekitarnya kala situasi memanas pasca kemerdekaan Indonesia.
Muhammad Romiansyah (21), tour guide di Museum MONPERA, menuturkan bahwa Kolonel Barlian adalah sosok pemimpin yang berani, cerdas, dan tegas.
“Haji Barlian itu dikenal sebagai tokoh lapangan yang memimpin langsung perlawanan. Dia bukan tipe pemimpin yang hanya memberi perintah, tetapi ikut terjun bersama pasukan di garis depan,” jelas Romi.
Kolonel Haji Barlian lahir di Tanjung Sakti Pagaralam pada tanggal 23 Juli 1922. Menurut arsip Museum, Kolonel Barlian memegang peranan penting dalam mempertahankan Palembang dari serangan Belanda semasa Agresi Militer.
"Salah satu momen paling dikenang adalah ketika ia memimpin pasukan mempertahankan titik-titik strategis kota, termasuk jembatan dan pelabuhan," ujarnya.
Selain keberanian di medan perang, Kolonel Barlian juga dikenal sangat peduli terhadap rakyat. Ia sering membantu pemindahan warga sipil dari wilayah konflik, menyediakan makanan bagi para pengungsi, bahkan mengatur tempat perlindungan sementara untuk korban perang.
“Masa itu banyak rakyat yang bersaksi ditolong langsung oleh Kolonel Barlian. Hal ini menunjukkan bahwa ia bukan hanya pemimpin militer, tapi juga pemimpin kemanusiaan,” lanjut Romi.
Namun disayangkan, Kolonel Barlian wafat dalam kecelakaan pesawat terbang Garuda Indonesia Airlines jenis FOKKER 28 "MAHAKAM" di KM 14 Palembang.
Bagi Romiansyah, setiap kali mengenang sosok Kolonel Haji Barlian rasanya seperti membangkitkan jiwa penuh semangat dari seorang pejuang yang rela berkorban demi bangsanya.
“Kita mungkin tidak bisa membalas jasanya, tapi kita bisa memastikan namanya tetap hidup dalam ingatan sejarah,” tutupnya. (Nabilla Hidayati)