.jpg)
Angkutan Kota (Angkot) yang beroperasi di Palembang. (Foto: Nazayla Putri)
PUYANG - Angkutan Kota atau yang dsisingkat Angkot, menjadi transportasi umum roda empat yang sering dijumpai dulunya.
Tak heran, mengingat banyaknya Angkot yang beroperasi serta harga ongkos yang murah meriah, terlebih belum banyak opsi kendaraan lain, banyak orang menjadikannya sebagai transportasi utama.
Namun semakin berkembangnya zaman dan teknologi, ia perlahan mulai tergantikan oleh transportasi lain yang mulai menjamur dimasyarakat. Sama halnya dengan Kota Palembang yang sekarang dipenuhi kendaraan pribadi di jalan raya.
Alif Athillah (20), Ketua Umum Komunitas Pecinta Sejarah UIN Raden Fatah Palembang, mengungkapkan pengetahuannya mengenai Angkot yang telah beroperasi kira-kira sejak 1960 di Palembang.
“Angkot sendiri sebenarnya sudah cukup lama digunakan sebagai transportasi di Palembang, mungkin sekitar tahun 1960,” ungkapnya.
Di tahun tersebut, nama yang digunakan untuk tranportasi ini bukanlah Angkot melainkan Opelet. Sebagian Petrol Head menyimpulkan bahwa kata Opelet merupakan gabungan dari kata Opel dan Chevrolet, sebuah brand besar yang menguasai Pasar Indonesia serta digunakan untuk armada angkutan umum pada masa itu.
Awalnya Opelet beroperasi dengar rute dari 16 Ilir menuju Bukit sebelum adanya Jembatan Ampera. Namun setelah Jembatan Ampera diresmikan pada tahun 1965, kawasan dibagian bawah Jembatan tersebut dijadikan terminal bagi armada Opelet.
Lalu di tahun 1990-1991, munculah istilah baru pada penamaan Opelet yaitu Angkutan Kota (Angkot) karena terdapat tulisan Angkutan Kota di badan mobilnya.
“Dulu pada tahun 1990 namanya itu masih Opelet, singkatan dari nama brand Opel dan Chevrolet. Sedangkan nama Angkot sendiri baru dikenal pada era 1990-1991,” lanjut Alif.
Desain Angkot sendiri sempat mengalami beberapa kali perubahan. Ketika masih bernama Opelet, ia memiliki 3 pintu yang masing-masing ada di bagian kiri, kanan dan belakang untuk penumpang, ada bonnet (kap mesin) pada sisi depan, lalu kursi penumpang yang berhadapan, serta mampu menampung 6 hingga 8 orang.
Setelah berubah sebutan menjadi Angkot, bentuknya turut bertransformasi seperti Angkot yang kita kenal sekarang. Ia memiliki 2 pintu dibagian depan dan 1 pintu di sebelah kiri belakang untuk penumpang. Namun begitu, ada beberapa Angkot yang hanya memiliki 1 pintu masuk.
Sementara itu, jika dulunya angkot hanya mengandalkan dua brand besar saja, kini sudah lebih banyak brand yang digunakan.
“Design angkot mengalami perubahan beberapa kali. Jika dulu armada angkot hanya mengandalkan dua brand saja, saat ini angkot sudah banyak menggunakan brand-brand lain seperti Daihatsu Gran Max, Suzuki Carry, Isuzu Panther dan lain sebagainya,” tambah Alif.
Menurutnya, ada banyak hal yang perlu lebih diperhatikan lagi mengenai keberlangsungan Angkot di Kota Palembang, salah satunya mengenai kondisi Angkot yang sudah tidak layak tetapi masih digunakan sehingga menimbulkan keresahan masyarakat.
Terlebih lagi jika dilihat dari sisi keamanannya, dulunya banyak orang yang akan merasa was-was ketika menaiki Angkot akibat maraknya tindak kejahatan.
Meski begitu, jika dibandingkan dengan sekarang, kondisi Angkot yang ada di palembang bisa dibilang sudah cukup memadai untuk mengangkut penumpang.
Sudah banyak supir yang lebih memperhatikan kebersihan dan kenyamanan pelanggan, juga masyarakat yang lebih aware terhadap tindak kejahatan saat menaiki transportasi umum khususnya Angkot.
“Angkot ini banyak sekali tantangannya. Baik dari segi kenyamanan ataupun keamanan, tapi sekarang para supir sudah lebih perduli terhadap kenyamanan pelanggan begitupun pelanggan yang lebih aware terhadap keamanan sendiri,” imbuhnya.
Alif berpendapat, meskipun sudah banyak pilihan transportasi lain, Angkot tetap bisa menjadi pilihan yang tepat karena harganya yang cukup terjangkau dan efisien dari segi waktu.
“Walaupun saat ini sudah banyak sekali pilihan transportasi, akan tetapi menurut kami Angkot akan tetap sustain kedepannya, akan tetap ada peminatnya,” ucapnya.
Angkot bukan sekedar traportasi umum, tetapi menjadi bagian penting dari sejarah transportasi Palembang, sama pentingnya dengan kapal-kapal yang ada di Sungai Musi yang turut mewarnai sejarah Palembang.
“Aktivitas dagang di kota Palembang kan sangat ramai, mobilitasnya juga cukup tinggi, jadi transportasi umum seperti Angkot dinilai sangat berguna bagi masyarakat kota Palembang dan sangat penting dalam perkembangan sejarahnya,” tambah Alif.
Dalam pandangannya, jika diadakan training khusus untuk para supir, hal itu bisa meminimalisir hal-hal yang tidak diinginkan. Seperti kecelakaan di jalan atau ketidaknyamanan penumpang akan kondisi Angkot yang dinaiki.
Guna mempertahankan eksistensi Angkot dan menarik lebih banyak perhatian masyarakat, Alif berharap akan ada pembaruan Angkot yang lebih modern dan unik.
“Saya berharap, ada orang yang cukup berani untuk membuat angkot Retro dengan design seperti masa dulu yang dikenal sebagai Opelet namun dengan mesin yang lebih modern. Sepertinya akan lebih menarik karena ada vibes yang berbeda disana,” tutupnya. (Nazayla Putri)