PUYANG - Universitas Sriwijaya (UNSRI) bersama Amsterdam University Medical Centers (Amsterdam UMC) kembali menjajaki kerja sama akademik dan penelitian di bidang penyakit tropik (Tropical Infectious Diseases) melalui pertemuan daring kedua.
Pertemuan ini melibatkan pimpinan UNSRI, Fakultas Kedokteran (FK) UNSRI, Amsterdam UMC, Dinas Kesehatan Kota Palembang, serta tim peneliti penyakit tropik infeksi FK UNSRI.
Dari UNSRI, pertemuan dihadiri Wakil Rektor Bidang Penelitian, Pengabdian, Inovasi, Hilirisasi, dan Teknologi Informasi, Prof. Dr. dr. Radiyati Umi Partan, Sp.PD. K.Rheu. K-R, M.Kes, FINASIM, serta Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan dan Alumni FK UNSRI, Prof. Dr. dr. Ramzi Amin, Sp.M(K).
Amsterdam UMC diwakili Prof. Martin Peter Grobusch dan Ika Septihandayani, S.IP., M.Sc. Hadir pula Kepala Dinas Kesehatan Kota Palembang, dr. Fenty Aprina, Sp.KKLP., bersama tim peneliti penyakit tropik infeksi FK UNSRI.
Agenda pertemuan meliputi pemaparan profil riset Amsterdam UMC, penyampaian pernyataan pengantar dari pimpinan UNSRI, pembahasan situasi kesehatan Kota Palembang, serta presentasi enam proposal penelitian dari dosen FK UNSRI.
Dalam kesempatan tersebut, UNSRI juga menawarkan sejumlah peluang kolaborasi riset melalui pemanfaatan berbagai skema hibah.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Palembang, dr. Fenty Aprina, menyampaikan bahwa berbagai tantangan kesehatan dapat menjadi peluang untuk membangun kolaborasi.
Menurutnya, pemanfaatan teknologi digital, pemberdayaan kader kesehatan di lingkungan masyarakat, serta kemitraan yang kuat antara pemerintah dan masyarakat dapat memberikan dampak yang lebih luas.
Gagasan tersebut mendapat respons positif dari Prof. Martin Peter Grobusch. Ia menekankan bahwa kolaborasi penelitian tidak selalu harus diawali dengan dukungan pendanaan dalam jumlah besar. Penyatuan keahlian, pertukaran gagasan, dan pemanfaatan data yang telah tersedia dapat menjadi langkah awal untuk mengembangkan program bersama.
“Saya pikir banyak hal dapat dilakukan tanpa membutuhkan pendanaan khusus yang besar. Sering kali yang lebih penting adalah menyatukan keterampilan, menyatukan ide, serta memanfaatkan data yang sudah tersedia. Dengan demikian, banyak program dapat dimulai tanpa harus memiliki dana besar sejak awal,” ujarnya.
Dalam pembahasan proposal, sejumlah topik penelitian yang diangkat mencakup prediktor mortalitas pada pasien HIV stadium lanjut, model risiko lingkungan penularan tuberkulosis (TB), imunosenesens pada lansia, keamanan terapi dapson pada pasien kusta, serta studi genetik IFN-γ dan lineage TB.
Menanggapi berbagai usulan tersebut, Prof. Grobusch memberikan masukan terkait metodologi penelitian dan menawarkan dukungan dalam pengembangan riset.
Ia juga membuka peluang bagi tim UNSRI untuk mengakses jejaring laboratorium rujukan di Eropa. Selain itu, ia menyatakan kesediaannya menjadi penghubung UNSRI dengan para pakar dalam jejaring internasional.
Pertemuan menghasilkan sejumlah kesepakatan operasional sebagai tindak lanjut penjajakan kerja sama. Kedua pihak akan memilih dua hingga tiga proyek rintisan yang dapat segera dikembangkan, mengirimkan seluruh materi paparan kepada Amsterdam UMC, serta menjadwalkan pertemuan lanjutan dalam dua hingga tiga minggu ke depan.
Selain pembahasan riset, kunjungan Prof. Grobusch ke Palembang direncanakan paling cepat pada awal 2027. Kunjungan tersebut berpeluang diisi dengan kegiatan akademik, termasuk kuliah tamu mengenai zoonosis dan new emerging infectious diseases.
Melalui pertemuan ini, UNSRI dan Amsterdam UMC melanjutkan penjajakan kerja sama dalam penelitian penyakit tropik, pengembangan kapasitas laboratorium, dan publikasi bersama.
Kedua institusi juga akan menjajaki peluang pendanaan melalui program nasional, seperti LPDP dan Equity, serta skema internasional lainnya yang tersedia di UNSRI. (*)
