
UNSRI dan Leiden University Medical Centre (LUMC), Belanda, membahas kolaborasi riset kanker serviks dan validasi TeleOTIVA secara daring pada 31 Agustus dan 11 September 2026.
PUYANG - Universitas Sriwijaya (UNSRI) menggelar dua pertemuan virtual bersama Leiden University Medical Centre (LUMC), Belanda, untuk membahas pengembangan kolaborasi riset kanker serviks dan validasi klinis TeleOTIVA pada 31 Agustus dan 11 September 2026.
Pertemuan pertama bertajuk “Connecting and Building Trust with Leiden University Medical Centre (Jogchum Beltman, Suze Kruisheer) and FK/Fasilkom UNSRI Research Team Cancer Cervical Project”. Pertemuan tersebut membahas langkah awal kerja sama penelitian sekaligus membangun komunikasi dan kesamaan visi antara UNSRI dan LUMC.
Dari LUMC, pertemuan dihadiri Dr. Jogchum Beltman, gynecologic oncologist, yang memiliki keahlian di bidang kanker serviks, termasuk faktor penentu pencegahan kanker serviks di negara berpenghasilan rendah dan menengah serta bedah preservasi fertilitas pada pasien kanker serviks. Ia didampingi Suze Kruisheer selaku Lead LUMC Global.
UNSRI diwakili Prof. Dr. dr. Radiyati Umi Partan, Sp.PD, K-R, M.Kes., selaku Wakil Rektor Bidang 3; Najmah, S.K.M., M.P.H., Ph.D., dari Direktorat Kerja Sama, Internasionalisasi dan Alumni; serta Dr. M. Fachrurrozi, S.Si., M.T., selaku Dekan Bidang 3 Fakultas Ilmu Komputer.
Pertemuan juga melibatkan Tim Pengembang Produk Inovasi TeleOTIVA yang dipimpin Prof. Ir. Siti Nurmaini, M.T., Ph.D., bersama Dr. Firdaus, S.T., M.Kom., Muhammad Naufal Rachmatullah, M.T., Dr. Annisa Darmawahyuni, M.Kom., Dr. Ade Iriani Sapitri, M.Kom., Anggun Islami, M.Kom., Akhiar Wista Arum, S.T., M.Kom., Dr. Sutarno, S.T., M.T., dan Ghita Athalina, B.Eng., M.Eng.
Dalam pertemuan tersebut, Prof. Radiyati menyampaikan harapan agar komunikasi yang terjalin dapat dilanjutkan dalam bentuk penelitian bersama untuk mengembangkan TeleOTIVA.
Menurutnya, pengembangan teknologi tersebut tidak hanya diarahkan untuk penerapan di Indonesia, tetapi juga berpotensi diperluas ke negara lain.
“Saya sangat berharap pertemuan antara UNSRI dan LUMC ini dapat menjadi awal dari penelitian bersama untuk mengembangkan TeleOTIVA, tidak hanya untuk diterapkan di Indonesia, tetapi juga berpotensi dikembangkan di negara-negara lain,” ujarnya.
Pembahasan kemudian diarahkan pada mekanisme kerja sama dan pelaksanaan penelitian kanker serviks yang dapat menjadi dasar kolaborasi kedua institusi.
Selain aspek penelitian, kedua pihak juga membahas penguatan hubungan kelembagaan dan koordinasi dalam pelaksanaan riset bersama.
Kolaborasi tersebut berlanjut melalui pertemuan kedua pada 11 September 2026 bertajuk “TeleOTIVA Clinical Validation: A Collaborative Study Between Artificial Intelligence–Medical Center of Excellence (AIMed CoE) Universitas Sriwijaya and Leiden University Medical Center (LUMC)”. Pertemuan ini secara khusus membahas validasi klinis dan pengembangan TeleOTIVA untuk mendukung skrining kanker serviks.
Prof. Siti Nurmaini menjelaskan bahwa TeleOTIVA telah melalui sejumlah tahap evaluasi di Indonesia. Untuk memperoleh gambaran yang lebih komprehensif mengenai kinerja sistem, diperlukan validasi klinis eksternal pada subjek di luar Indonesia dengan kondisi klinis yang berbeda.
“TeleOTIVA telah melalui beberapa tahap evaluasi di Indonesia. Namun, untuk memperoleh gambaran yang lebih komprehensif mengenai kinerja sistem, diperlukan validasi klinis eksternal pada subjek di luar Indonesia dan dalam kondisi klinis yang berbeda,” jelasnya.
Dalam diskusi tersebut, UNSRI melalui Artificial Intelligence–Medical Center of Excellence (AIMed CoE) dan LUMC mengeksplorasi peluang pengujian kinerja TeleOTIVA pada lingkungan layanan kesehatan dan populasi yang beragam.
Pembahasan mencakup potensi penelitian di negara berpenghasilan menengah dan tinggi serta evaluasi diagnostic robustness platform pada kelompok demografis dan populasi dengan latar belakang ras yang berbeda.
Selain LUMC, kedua pihak turut membahas potensi keterlibatan Delft University of Technology (TU Delft). Keahlian TU Delft di bidang rekayasa dan teknologi maju dinilai dapat melengkapi kompetensi klinis dan kecerdasan artifisial yang dimiliki mitra dalam pengembangan TeleOTIVA.
Melalui rangkaian pertemuan tersebut, UNSRI dan LUMC menjajaki penguatan bukti klinis TeleOTIVA serta perluasan penelitian pada konteks internasional.
Kolaborasi ini diarahkan pada pengembangan teknologi skrining kanker serviks berbasis kecerdasan artifisial yang dapat diuji pada populasi dan lingkungan layanan kesehatan yang beragam.
Kerja sama tersebut juga menjadi bagian dari penguatan riset UNSRI di bidang kecerdasan artifisial dan kesehatan sekaligus memperluas jejaring akademik internasional dalam pengembangan teknologi kesehatan. (*)