terkini

Simbolik dan Penuh Makna, Begini Tradisi Khitan dalam Budaya Palembang

Friday, February 13, 2026, Friday, February 13, 2026 WIB Last Updated 2026-02-13T05:00:00Z
Pengunjung Memperhatikan Busana dan Perlengkapan Pengantin Sunat di Museum Sultan Mahmud Badaruddin II. (Foto: Daffa Aqilah Febriyani)

PUYANG
- Tradisi khitan atau sunatan mulanya tak hanya dilestarikan untuk memenuhi tuntutan kesehatan, melainkan ada rangkaian adat dan makna simbolik dibaliknya, terutama dalam menandai peralihan usia kanak-kanak menuju dewasa.


Menurut Heri (47), pegawai Dinas Kebudayaan Palembang bidang Cagar Budaya, anak laki-laki di Palembang umumnya disunat pada usia enam hingga delapan tahun setelah mereka menyelesaikan bacaan Al-Qur'an.


"Anak laki-laki biasanya tamat mengaji di kisaran enam sampai delapan tahun. Saat itu mereka dianggap sudah cukup umur untuk disunat," jelasnya.


Sehari sebelum dilaksanakannya prosesi khitan, para orangtua akan mengadakan acara arak-arak sebagai bentuk pemeriah dan penyemangat bagi anak-anak yang biasanya dilanda ketakutan. 


"Arak-arakan biasanya dilakukan di hari minggu, kemudian khitan di keesokan harinya," lanjutnya. 


Secara makna, Heri menjelaskan bahwa khitan dalam budaya Palembang menjadi simbol bahwa anak telah memasuki fase dewasa atau baligh.


Sebelum khitan dilakukan, ada sejumlah ritual adat yang harus dijalankan. Anak yang akan disunat terlebih dahulu direndam di dalam air, kemudian dipakaikan kain pelekat serta baju bela booloo, pakaian tradisional khusus untuk tradisi ini.


Tak hanya itu, ada juga atribut pelengkap yang harus dikenakan sang anak, seperti kopiah dan sandal tradisional yang disebut cenella. Kini berbagai perlengkapan tersebut bisa dilihat langsung sebagai koleksi di Museum Sultan Mahmud Badaruddin II. 


"Di kepalanya dipakaikan kopiah bludru, terus diselipin bulu ayam juga. Katanya sih biar engga bengkak pas setelah dikhitan nanti," ujarnya.


Pada saat proses khitan berlangsung, anak didudukan di atas bokor kuningan yang sudah dilapisi kain atau sewet semage. Di sekelilingnya juga disiapkan kain khusus untuk menampung tetesan darah dari proses khitan tersebut.


Adanya tradisi ini menunjukkan bahwa khitan tidak hanya dimaknai sebagai kewajiban agama dan kesehatan, tetapi juga bagian dari warisan budaya yang dijaga secara turun-temurun oleh masyarakat Palembang. (Daffa Aqilah Febriyani)

Komentar
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. #JernihBerkomentar
  • Simbolik dan Penuh Makna, Begini Tradisi Khitan dalam Budaya Palembang

Terkini