terkini

Pasca Pelantikan, KCFI Sumsel Gelar Bedah Buku “Perang Kota 120 Jam” Sebagai Agenda Perdana

Monday, February 09, 2026, Monday, February 09, 2026 WIB Last Updated 2026-02-09T03:52:54Z

 

 Foto bersama setelah kegiatan bedah buku berjudul “Perang Kota 120 Jam Rakyat Palembang


PUYANG – Komunitas Cinta Film Indonesia (KCFI) Provinsi Sumatera Selatan langsung tancap gas usai resmi dilantik oleh Pengurus Pusat. Sehari setelah pelantikan, KCFI Sumsel menggelar kegiatan bedah buku berjudul “Perang Kota 120 Jam Rakyat Palembang” yang berlangsung di Ruang Mahameru Hotel Swarna Dwipa, Palembang, Sabtu (29/11/2025).


Kegiatan ini menjadi agenda perdana KCFI Sumsel pasca pelantikan sekaligus penanda komitmen organisasi dalam mengembangkan ekosistem perfilman lokal berbasis sejarah dan literasi.


Ketua Umum KCFI Pusat, Budi Sumarno, yang hadir sebagai pemateri utama, menilai Sumatera Selatan memiliki kekayaan sejarah dan budaya yang sangat potensial untuk diadaptasi menjadi karya film.


“Banyak peristiwa sejarah dan budaya lokal di Sumatera Selatan yang memiliki daya tarik visual kuat dan layak diangkat menjadi film dokumenter maupun film cerita,” ujarnya.


Menurutnya, sineas lokal memiliki kapasitas dan kreativitas untuk mengemas sejarah daerah menjadi tontonan berkualitas sekaligus edukatif.


Bedah buku yang berlangsung pukul 14.00–17.00 WIB ini dibuka secara resmi oleh Kepala Dinas Perpustakaan Provinsi Sumatera Selatan, Fitriana, S.Sos.,M.Si.


Sejumlah tokoh lintas sektor turut hadir, di antaranya perwakilan Forkopimda Sumsel, H. Asmarullah Mangku Alam (zuriyat pejuang sekaligus LVRI Sumsel dan Palembang), Drs. Syafruddin Yusuf, M.Pd., Ph.D (sejarawan Sumsel), Dr. Kemas A.R. Panji, S.Pd., M.Si (akademisi dan sejarawan Palembang), serta pelaku perfilman nasional seperti Adisurya Abdy (produser dan sutradara) dan Bernhard Uluan Sirait (Director of Photography).


Ketua KCFI Sumsel, Suterisne, S.E. (Yosef), menegaskan pentingnya menjaga sejarah sebagai bagian dari identitas daerah.


“Sejarah adalah identitas. Jika terputus, kita bisa kehilangan arah,” tegasnya.


Ia menilai peristiwa heroik Perang Kota 120 Jam merupakan salah satu momen penting dalam sejarah Palembang yang sangat layak diangkat ke layar lebar.


“Mengangkat kisah ini menjadi film berarti menjaga memori kolektif masyarakat Palembang agar tetap hidup,” katanya.


Yosef menjelaskan, KCFI Sumsel akan menjadikan kegiatan bedah buku ini sebagai tonggak awal gerakan kreatif pasca pelantikan. Ke depan, KCFI Sumsel berkomitmen membangun kolaborasi dengan komunitas film, pemerintah daerah, akademisi, hingga seniman lokal.


“Ini bukan sekadar seremoni, tetapi langkah awal untuk melahirkan film-film yang bercerita tentang Palembang dan Sumatera Selatan,” ujarnya.


KCFI Sumsel berharap kegiatan ini dapat memotivasi sineas muda untuk menggali sejarah daerah sebagai sumber inspirasi karya film yang bernilai budaya dan edukasi.


Kegiatan tersebut mendapat apresiasi dari berbagai pihak, dan KCFI Sumsel menyampaikan terima kasih atas dukungan semua elemen yang terlibat. (ARI)

Komentar
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. #JernihBerkomentar
  • Pasca Pelantikan, KCFI Sumsel Gelar Bedah Buku “Perang Kota 120 Jam” Sebagai Agenda Perdana

Terkini