![]() |
| Toko 362 Mang Den, usaha oleh-oleh khas Palembang di Cinde. (Foto: Nazayla Putri) |
PUYANG - Bagi warga Palembang pastinya sudah tak asing lagi dengan Cinde, pasar tradisional di pusat Kota Palembang yang terkenal lengkap akan kebutuhan masyarakat, baik itu barang pecah belah, pakaian, makanan, perlengkapan rumah tangga dan lain sebagainya.
Tak hanya itu, banyak pedagang disana turut menjual berbagai oleh-oleh khas Palembang yang kerap kali menjadi incaran wisatawan luar kota, salah satunya adalah Toko 362 Mang Den.
Pemilik usaha tersebut, Yeti (48), menjelaskan bahwa Toko 362 Mang Den ia bangun bersama suaminya Den sejak 2004 silam, terhitung 22 tahun hingga sekarang.
“Dari Cinde masih bangunan awal pun kita sudah bangun toko disini. Jadi memang sudah banyak pelanggannya, apalagi pusat Kota pasti ada aja yang mampir,” jelas Yeti.
Dalam jangka waktu yang tak sebentar itu, Yeti mengaku menjadi saksi bisu bagaimana sepak terjang Pasar Cinde dari tahun ke tahun.
Mulanya ia sempat memiliki tiga toko dan satu gudang di Cinde, namun akibat kebakaran yang sempat melanda, kini hanya tersisa satu toko saja yang berlokasi di Jalan Sudirman 24 Ilir Palembang.
Meski begitu, mengingat lokasi Pasar Cinde yang selalu ramai dan strategis apalagi setelah dirombak habis oleh Pemerintah, Toko 362 Mang Den yang ada tetap dipertahankan hingga sekarang.
“Dulu kita punya 3 toko dan 1 gudang. Tapi karena kebakaran jadi sisa 1 toko ini aja. Sekarang sudah jauh diperbaiki dan kita juga ada produksi di rumah,” ungkapnya.
Setelah lebih dari dua dekade mengembangkan Toko Mang Den, usaha Yeti dan sang suami berbuah manis dengan banyaknya pelanggan tetap.
Tak heran, oleh-oleh yang dijual sangat bervariatiif, mulai dari berbagai jenis kemplang, kerupuk, pempek, serta kue kering dan kue basah khas Palembang.
Kemplang yang dijual berbahan dasar ikan Tenggiri dan ikan Gabus dengan kisaran harga Rp50.000-Rp150.000 tergantung seberapa banyak permintaan pembeli.
“Disini kita jualnya perkilo, tapi bisa juga tergantung pembeli. Terkadang ada yang mau sekilo dibagi empat, dibagi dua, atau dibagi tiga,” ujar Yeti.
Dengan jam operasional dari pukul 7 pagi sampai 5 sore, dalam satu harinya Toko 362 Mang Den bisa kedatangan 20 hingga 50 pembeli jika sedang ramai-ramainya, seperti saat ramadhan atau mendekati hari raya.
Demi memaksimalkan penjualan, Yeti juga melayani pembelian secara online melalui WhatsApp dan Media Sosial Toko 362 Mang Den.
“Sehari bisa dapat 800 ribu sampai 1 juta dari penjualan offline sama online. Berhubung kita kerja sendiri jadi hitungnya perhari,” lanjutnya.
Seiring meningkatnya permintaan pelanggan, Yeti juga mempekerjakan pegawai untuk membantu proses produksi di rumah. Sementara untuk penjualan di toko, dirinya berjaga bergantian dengan saudaranya yang lain.
Sebagai pedagang yang telah berpuluh-tahun berniaga disana, ia menyarankan sekaligus berharap agar Pasar Cinde dapat lebih diperhatikan dan diperbaiki lagi demi kenyamanan bersama.
“Dulu Pasar Cinde itu lebih enak, rapi gitu. Sekarang kalau hujan bisa banjir dan harus stop jualan. Semoga lebih diperhatikan lagi agar pembeli nyaman dan betah,” timpal Yeti. (Nazayla Putri)
