.jpg)
Papan Nama Sultan Ahmad Najamuddin Adi Kusumo. (Foto: Nabilla Hidayati)
PUYANG - Nama Sultan Ahmad Najamuddin Adi Kusumo memang tidak sepopuler keturunannya, Sultan Mahmud Badaruddin II.
Namun, peranannya dalam menjaga keberadaan Kesultanan Palembang Darussalam pada abad ke-18 tak bisa diabaikan begitu saja.
Irwan (61), RT di kawasan Kawah Tengkurep sekaligus mantan Dinas Kebudayaan Palembang yang aktif menelusuri sejarah lokal berbagi cerita terkait Sultan Palembang Darussalam tersebut.
“Sultan Ahmad Najamuddin Adi Kusumo memerintah antara tahun 1758 hingga 1776 M. Beliau merupakan salah satu tokoh penting dalam sejarah Kesultanan Palembang,” ujar Irwan.
Pada masa itu Pusat Pemerintahan berada di Keraton Kuto Gawang dan sekitarnya, lalu kemudian berpindah akibat serangan Belanda.
Selama pemerintahannya, Sultan menghadapi tantangan besar. Salah satunya adalah tekanan dari VOC Belanda yang terus berusaha menguasai perdagangan penting di Sumatera Selatan, terutama lada dan timah.
Karena itu hubungan antara Kesultanan dan VOC kerap memanas akibat Sultan yang menolak tunduk pada monopoli dagang asing.
“Hubungannya cukup tegang. Sultan berusaha mempertahankan kedaulatan Palembang dari pengaruh dan dominasi dagang VOC yang ingin menguasai perdagangan lada dan timah,” ujarnya.
Irwan menambahkan, ada peran penting Sultan Ahmad Najamuddin Adi Kusumo dalam jalur perdagangan Palembang.
Ia memperkuat sistem pemerintahan kerajaan dan perlindungan terhadap budaya serta hukum Islam di wilayah Kesultanan.
“Sultan mengontrol langsung perdagangan strategis terutama lada, dan mencoba mempertahankan jalur dagang dari pengaruh asing,” ungkapnya.
Di bawah kepemimpinannya masyarakat hidup dalam struktur sosial yang teratur dengan pengaruh kuat budaya Melayu-Islam. Ekonomi banyak bergantung pada perdagangan dan pertanian.
“Beliau memperkuat syariat Islam dalam pemerintahan, memperhatikan pengajaran agama, dan menjaga peran para ulama dalam struktur sosial-politik,” tutur Irwan.
Beberapa kali Sultan harus menghadapi konflik lokal maupun tekanan militer dari pihak asing, terutama VOC. Meski begitu ia tetap menjalankan diplomasi secara hati-hati dengan pihak luar serta memperkuat loyalitas internal melalui sistem adat dan Islam.
Setelah Sultan Ahmad Najamuddin Adi Kusumo wafat pada tahun 1776 M, tahta dilanjutkan oleh keturunannya Sultan Mahmud Badaruddin II, Sultan besar yang lebih dikenal dalam sejarah perjuangan melawan Belanda.
“Beliau menjadi jembatan penting antara generasi awal Kesultanan dengan generasi yang berjuang melawan kolonialisme. Pemerintahannya menanamkan dasar-dasar pertahanan budaya dan politik,” tutup Irwan. (Nabilla Hidayati)