![]() |
| Berbagai Koleksi Senjata di MONPERA. (Foto: Nazayla Putri) |
PUYANG - Dahulu ketika Indonesia masih harus berjuang untuk meraih kemerdekaan, pengggunaan senjata tentunya adalah hal yang lumrah.
Berbagai senjata tersebut melambangkan semangat juang, bentuk penolakan terhadap penjajahan dan upaya untuk meraih kemerdekaan.
Bagi masyarakat Palembang yang ingin mengenal sejarah lebih dekat, bisa datang langsung ke Museum Monumen Perjuangan Rakyat Sumatra Bagian Selatan (MONPERA SUMBAGSEL) yang berlokasi di Jalan Merdeka Bukit Kecil Kota Palembang.
Bangunan megah yang menjulang tinggi itu menjadi tempat 'beristirahatnya' para 'saksi' perjuangan masyarakat Palembang di perang Lima Hari Lima Malam yang telah tercatat di dalam sejarah.
Di dalamnya terdapat banyak koleksi yang berharga, salah satunya adalah senjata-senjata yang digunakan para pejuang.
Muhammad Romiansyah (21), salah satu Tour Guide di MONPERA mengungkapkan bahwa koleksi senjata yang ada disana memang seringkali menarik perhatian banyak pengunjung karena keunikannya dan tidak bisa ditemui di sembarang tempat.
Terlebih lagi, semua koleksi di MONPERA merupakan pemberian dari tentara Republik Indonesia sejak tahun 1988 silam.
“Di MONPERA kita memang punya beberapa senjata yang ditaruh di dalam kaca. Dan itu senjata yang dulunya digunakan semasa perang,” ungkapnya.
Mulai dari Meriam Sunan, FIAT, dan Hamburg yang merupakan senjata buatan Jerman dan digunakan pada saat perang Lima Hari Lima Malam. Lalu ada SMR/BREN dan Juki Kanju yang dirampas dari Tentara Jepang semasa perang.
Ada Double LOP yaitu senjata yang sering digunakan untuk berburu, dan STEN MK II (STUN GUN) yang merupakan senapan mesin ringan sekaligus senjata dari Britania Raya yang dibuat oleh salah satu perancang bernama Mayor Regnald V. Shepherd Harold J. Turoin pada tahun 1940.
Selanjutnya ada Meriam Kecepek yang dibuat oleh masyarakat Indonesia ketika melawan penjajahan Belanda. Bahan utama meriam ini adalah tiang telepon atau tiang listrik dan peluru yang digunakan.
Ada juga Teki Danto, sebuah senjata pelempar granat tipe 89 buatan Jepang, serta LE MK III yang dirampas dari tentara Inggris semasa perang, tak lupa Pedang Sabil dan Samurai yang dipajang di dinding Museum MONPERA.
Di antara banyaknya koleksi senjata tersebut, Romi mengatakan senjata yang paling terkenal adalah Juki Kanju yang berada di lantai tiga Museum. Senjata rampasan dari Tentara Jepang semasa perang yang berukuran sedang dan berbentuk unik ini ternyata mampu menarik perhatian pengunjung.
“Yang paling terkenal itu Juki Kanju, banyak pengunjung yang sering datang karena penasaran sama senjata itu,” imbuh Romi.
Melihat jumlah senjata yang tak sedikit, ia menjelaskan bahwa koleksi yang ada tidak masuk secara bertahap, melainkan sudah ada di Museum MONPERA sejak awal dari pengelola Pangdam Sriwijaya.
Ia turut menambahkan, untuk terus menjaga dan melestarikan semua senjata tersebut, tentunya rutin dilakukan pembersihan dan perawatan sehingga tak rusak ditelan umurnya.
“Selaku pengurus MONPERA, tentunya kami selalu berusaha untuk merawat baik-baik semua koleksi disini termasuk senjata-senjatanya,” pungkas Romi. (Nazayla Putri)
