terkini

Masyarakat Kayuagung Kembali Gelar Tradisi Midang Morge Siwe Tahun 2026, Budaya Warisan Leluhur

Wednesday, March 25, 2026, Wednesday, March 25, 2026 WIB Last Updated 2026-03-25T05:00:00Z

 

Masyarakat Kayuagung fantasias ikuti Tradisi Midang Morge Siwe Tahun 2026.





PUYANG - Midang Morge Bebuke menjadi salah satu warisan budaya arak-arakan adat yang terus dilestarikan masyarakat Kelurahan Mangunjaya, Kecamatan Kayuagung, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan.


Tradisi budaya yang unik dan penuh makna ini menjadi ba
gian penting dalam merayakan Idulfitri, terutama pada hari ketiga dan keempat setelah Lebaran.


Perayaan budaya ini dilakukan dengan menampilkan arak-arakan muda-mudi berpakaian adat diiringi musik tradisional yang khas.


Tradisi arak-Arakan penuh warna Midang Bebuke merupakan prosesi arak-arakan para remaja yang mengenakan busana adat pernikahan khas Kayuagung. 


Mereka berjalan kaki beriringan menyusuri jalanan sekitar Sungai Komering, membawa serta semangat kebudayaan dan nilai kebersamaan. 


Prosesi ini diiringi oleh musik jidur, alat musik tradisional yang menciptakan suasana meriah dan menggugah semangat seluruh warga.


Menurut Ibu Yana Arie (50), warga Kelurahan Mangunjaya, Midang Bebuke bukan sekadar pawai atau hiburan, melainkan bentuk pelestarian budaya leluhur. 


“Ini adalah cara kami mengenalkan budaya kepada generasi muda. Mereka tidak hanya mengenakan pakaian adat, tapi juga memahami makna di baliknya,” ujar Yana.


Dalam prosesi prayaan budaya ini, seluruh remaja di Kelurahan Mangunjaya diperbolehkan ikut berpartisipasi dalam tradisi ini. 


Namun, posisi penting dalam barisan arak-arakan seperti "bujang gadis inti" dipilih secara khusus berdasarkan kriteria seperti keaktifan dalam kegiatan adat atau kontribusi terhadap pelestarian budaya lokal.


Momentum lebaran yang berbeda Midang Bebuke selalu dilaksanakan pada hari ketiga dan keempat setelah Idulfitri, menjadikannya bagian penting dari kalender budaya masyarakat. 


Tradisi ini memperpanjang semangat lebaran dengan menambahkan unsur budaya, keindahan, dan kebersamaan dalam suasana religius.


Lokasi kegiatan di sepanjang Sungai Komering Arak-arakan biasanya dimulai dan berakhir di sepanjang jalan utama Kelurahan Mangunjaya yang mengarah ke Sungai Komering. 


Masyarakat dari berbagai kalangan, termasuk pendatang dari luar daerah, berkumpul di sisi jalan untuk menyaksikan prosesi ini.


Sungai Komering sendiri menjadi simbol penting dalam tradisi ini, karena sejak dahulu telah menjadi bagian dari kehidupan dan budaya masyarakat Kayuagung.


Pakaian adat sebagai identitas kultural yang digunakan dalam Midang Bebuke bukan hanya elemen visual. 


Busana tradisional tersebut merupakan simbol identitas kultural masyarakat OKI, yang diwariskan dari generasi ke generasi. 


"Kami ingin anak-anak muda tahu bahwa budaya ini milik mereka, dan tugas mereka untuk menjaganya," ujar Yana.


Antusiasme perayaan Midang Bebuke sangat meriah. Warga bersorak, bertepuk tangan, dan menikmati setiap detik arak-arakan yang melintasi jalanan desa. 


Musik jidur yang dimainkan bukan hanya pengiring, tapi juga pemicu semangat dan kebahagiaan.


Menurut Yana, tradisi ini tidak hanya menyatukan masyarakat lokal, tetapi juga menjadi daya tarik wisata budaya yang memperkenalkan kekayaan tradisi Ogan Komering Ilir kepada khalayak luas. 



Sebagai informasi, Midang Morge Siwe merupakan tradisi arak-arakan budaya khas masyarakat Kayuagung. 


“Midang” berarti berjalan kaki atau berarak-arakan menggunakan pakaian adat, sedangkan “Morge Siwe” merujuk pada sembilan marga atau dusun asli pembentuk wilayah Kayuagung, yakni Kayuagung Asli, Perigi, Kutaraya, Kedaton, Jua-Jua, Sidakersa, Mangunjaya, Paku, dan Sukadana.


Dalam pelaksanaannya, tradisi ini menampilkan pemuda-pemudi yang mengenakan busana adat perkawinan (Mabang Handak) dan berjalan mengelilingi kota, khususnya di sepanjang Sungai Komering, dengan iringan musik tradisional tanjidor. Tradisi ini biasanya digelar pada hari ketiga dan keempat Idul Fitri atau dikenal sebagai Midang Bebuke. 


Sekretaris Daerah Provinsi Sumatera Selatan, Dr. Drs. H Edward Candra,M.H , menghadiri langsung tradisi budaya Midang Morge Siwe yang digelar di Kayuagung, Kabupaten Ogan Komering Ilir, Senin (23/03/2026).


Kegiatan yang berlangsung di pelataran Pantai Love, Sungai Sungai Komering tersebut merupakan bagian dari rangkaian perayaan Idul Fitri 1447 Hijriah dan menjadi momen berkumpulnya masyarakat, termasuk para perantau yang pulang kampung.


Dalam sambutannya, Edward Candra menyampaikan keberlanjutan tradisi Midang Morge Siwe sebagai warisan budaya tak benda Indonesia merupakan hasil kesungguhan masyarakat dalam menjaga dan melestarikan budaya leluhur.


“Kita bersyukur kegiatan budaya kebanggaan Midang Morge Siwe dapat terus dilaksanakan dan menjadi warisan budaya tak benda Indonesia. Ini berkat kesungguhan masyarakat dan Pemerintah Kabupaten OKI,” katanya.


Menurutnya, Midang Morge Siwe tidak hanya menjadi simbol budaya, tetapi juga mencerminkan nilai kebersamaan, gotong royong, serta penghormatan kepada leluhur yang tetap dijaga hingga saat ini.


“Pemprov Sumsel memberikan apresiasi kepada Pemkab OKI dan masyarakat yang terus mempertahankan tradisi ini. Di dalamnya ada nilai kebersamaan, gotong royong, dan penghormatan kepada leluhur,” tambahnya.


Lebih lanjut, Edward mendorong Pemerintah Kabupaten OKI untuk terus mengembangkan pelaksanaan Midang Morge Siwe dengan tampilan yang lebih menarik, kreatif, dan inovatif guna menarik wisatawan dari luar daerah hingga mancanegara.


“Kami mendorong agar kegiatan ini dikemas lebih menarik dan inovatif sehingga mampu menarik wisatawan luar kota maupun mancanegara. Ke depan, ini bisa menjadi agenda nasional bahkan internasional,” tegasnya.


Ia juga menilai tradisi tersebut memiliki potensi besar dalam mendorong sektor pariwisata, khususnya ekonomi kreatif di daerah.


“Diharapkan kegiatan ini dapat mendorong kemajuan di bidang pariwisata, terutama ekonomi kreatif,” ujarnya.


Di akhir sambutannya, Edward mengingatkan masyarakat untuk tetap menjaga ketertiban dan keselamatan selama pelaksanaan kegiatan.


“Selamat menggelar Midang Morge Siwe. Pesan kami, tetap jaga ketertiban dan keselamatan dalam merayakan,” pungkasnya.


Sementara itu, Bupati OKI, Muchendi Mahzareki, mengatakan Midang Morge Siwe merupakan warisan budaya tak benda yang menjadi kebanggaan masyarakat Kayuagung dan telah diakui pemerintah.


“Kita sambut adat ini dengan kebanggaan karena sudah diakui pemerintah sebagai warisan budaya tak benda masyarakat Kayuagung. Dalam acara ini tidak hanya pejabat yang hadir, tetapi juga banyak warga OKI yang pulang kampung untuk menyaksikan tradisi ini sehingga menimbulkan nostalgia,” ujarnya.


Ia juga mengajak masyarakat untuk menikmati kemeriahan tradisi tersebut dengan tertib.


“Mudah-mudahan semarak Lebaran 2026 ini menjadi lebih berkesan dan tetap tertib. Kita jaga bersama. Selamat Lebaran dan selamat menyaksikan Midang Morge Siwe,” katanya.*


Komentar
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. #JernihBerkomentar
  • Masyarakat Kayuagung Kembali Gelar Tradisi Midang Morge Siwe Tahun 2026, Budaya Warisan Leluhur

Terkini

Topik Populer