![]() |
| Kartinah (37) Melayani Pembeli Dawet Banjarnegara. (Foto: Nazayla Putri) |
PUYANG - Di tengah viralnya berbagai kudapan manis dan kopi kekinian, para pedagang minuman tradisional harus memutar otak demi mempertahankan eksistensi cita rasa alami di lidah dan hati masyarakat.
Kartinah (37), menjadi contoh dibalik konsistensi dan kerja keras dalam mempertahankan resep turun temurun warisan daerahnya.
Bersama sang suami 15 tahun silam, Kartinah mampu mempertahankan usaha Dawet Banjarnegara yang menawarkan cita rasa alami khas Banjar, tempat dimana suaminya berasal.
Bukan Dawet di ruko atau resto besar, melainkan Dawet tradisional gerobakan yang berlokasi di pinggir Jalan Jenderal Ahmad Yani Tangga Takat Kota Palembang. Tepatnya di depan Cucian Motor Salju dan Rumah Makan Gratis Kaum Dhuafa.
“15 tahun lalu suami saya yang duluan jual Dawet saat masih bujang. 5 tahun kemudian kami menikah lalu saya ikut jualan,” jelas Kartinah saat diwawancarai beberapa waktu lalu.
Awalnya, penjualan Dawet Banjarnegara hanya menggunakan keranjang wayang. Namun karena semakin banyaknya permintaan, gerobak dan mesin press sederhana mulai digunakan 3 tahun belakangan.
Dawet Banjarnegara buka dari Senin-Sabtu mulai pukul 10 pagi dan tutup saat semua Dawet ludes terjual. Tak perlu menunggu lama, pukul 2 atau 3 sore ia sudah bisa pulang ke rumah.
“Kita buat Dawetnya jam 5 pagi dibantu sama karyawan di rumah. Kalau untuk jualannya ada satu tetangga yang bantu-bantu,” ujar Kartinah.
Para pembeli cukup merogoh kocek sebesar Rp6.000 untuk cup ukuran kecil, sementara Rp10.000 untuk Dawet ukuran besar.
Tak hanya melayani pembelian secara offline, Kartinah juga menyediakan pemesanan melalui WhatsApp. Ia mengaku sengaja tak mendaftarkan Dawet Banjarnegara di aplikasi pemesanan makanan karena takut keteteran.
“Kalau mau pesan online bisa lewat WA. Tapi untuk pemesanan porsi banyak harus seminggu sebelumnya, takutnya sudah ada yang pesan juga,” ujarnya.
Meski hanya menggunakan gerobak, Dawet Banjarnegara ternyata mampu menarik perhatian berbagai kalangan masyarakat seperti DPR hingga orang penting lainnya.
Kartinah mengatakan, pelanggan-pelanggan tersebut sudah biasa memesan Dawetnya dalam porsi besar untuk acara penting ataupun kumpul keluarga.
“Kebetulan kita udah punya banyak banget langganan yang sering pesan. Dari anggota Dewan, Walikota, Dinas Perhubungan, Kantor Kejaksaan, DPR, perusahaan-perusahaan juga,” ungkapnya.
Dengan pelanggan sebanyak itu, Kartinah tak bisa menebak secara pasti apa yang disukai pembeli dari Dawetnya. Namun ia memperkirakan, rasa yang masih alami dan tradisional mungkin jadi salah satu alasannya.
“Mungkin rasanya ya. Karena jaman sekarang udah engga banyak yang pakai pandan asli. Malah banyak yang pakai sagu. Tapi cocok-cocokan juga di lidah,” tambah Kartinah.
Jika melihat kesuksesannya sekarang, tak disangka Kartinah dan suaminya pernah melewati masa-masa sulit saat tahun pertama berjualan dan ketika covid melanda.
“Pas awal-awal buka masih sepi, terus juga pas corona enggak banyak yang beli kayak sekarang. Sulit lah saat itu,” tuturnya.
Setelah 15 tahun berjualan dengan keranjang dan gerobak, Kartinah merasa sudah cukup nyaman dengan keadaan tersebut. Perlu pertimbangan yang lebih matang jika hendak pindah ke toko maupun ruko.
Kedepannya, Kartinah berharap agar Dawet Banjarnegara yang telah ia bangun bersama suaminya semakin sukses dan lebih berkembang. (Nazayla Putri)
