.jpg)
Makam Ratu Gading di Kawah Tengkurep, Palembang. (Foto: Nazayla Putri)
PUYANG - Ratu Gading, nama yang asing di telinga masyarakat tetapi memiliki peranan penting dalam memperjuangkan emansipasi rakyat dalam melawan penjajahan.
Meski tak banyak yang tau, ceritanya seringkali menjadi bukti dan simbol seberapa tangguhnya pemimpin perempuan di masa lampau.
Irwan (61), mantan Dinas Kebudayaan Palembang sekaligus juru kunci Kawah Tengkurep menceritakan kisah Ratu Gading, perempuan bangsawan dari pedalaman Sumatera Selatan.
Ratu Gading hidup di abad 17 hingga awal abad ke-18. Ia dikenal dalam cerita lisan sebagai pemimpin tangguh yang menolak tunduk pada Kolonial Belanda dan membela hak-hak rakyatnya.
“Namanya tetap hidup dalam memori kolektif masyarakat pedalaman meskipun tidak banyak tercatat dalam dokumen sejarah resmi,” ungkapnya.
Menurut Irwan, Ratu Gading dulunya dikenal sebagai pemimpin yang adil, pemberani, dan dekat dengan rakyat.
Ia membuka ruang bagi para perempuan untuk terlibat dalam pengambilan keputusan desa, serta memperluas jaringan perdagangan rotan, damar, dan rempah yang menjadi sumber kekayaan wilayahnya.
Sang Ratu diyakini berasal dari garis keturunan Bangsawan lokal yang memerintah wilayah strategis di sekitar aliran Sungai Lematang atau Komering, di daerah Hulu Sumatera Selatan.
Meski sempat diragukan sebagai perempuan, ia berhasil menunjukkan sosok pemimpin yang kuat dan adil.
“Ratu Gading naik ke tampuk kepemimpinan setelah ayahnya meninggal dalam sebuah pertempuran mempertahankan wilayah dari serangan luar,” ujar Irwan.
Saat kekuasaan Belanda (VOC) mulai menyebar ke pedalaman, Ratu Gading menolak tunduk pada permintaan upeti dan monopoli dagang. Ia mengumpulkan para pemimpin kampung dan mendirikan persekutuan untuk menjaga hutan, ladang, dan pasar mereka dari cengkeraman penjajah.
“Ia pernah memimpin serangan penyergapan terhadap pasukan dagang bersenjata Belanda di tepian sungai dan berhasil mengalahkan mereka,” tambah Irwan.
Jejak fisik Ratu Gading sulit ditemukan. Namun sebagian warga desa tua di daerah Palembang maupun luar Palembang meyakini bahwa makamnya terletak di Kawah Tengkurep, tepatnya di Kelurahan 3 Ilir Kecamatan Ilir Timur Palembang.
Setiap tahun, sejumlah orang mendatangi makam Ratu Gading untuk mengirimkan doa sebagai bentuk penghormatan terhadap perjuangannya.
Sebagai simbol perempuan tangguh yang berani melawan penindasan kolonial dan patriarki. Kisahnya kini digali kembali oleh Komunitas pemuda dan Sejarawan lokal untuk memperkaya sejarah Sumatera Selatan. (Nabilla Hidayati)