terkini

UNSRI Gelar Kuliah Umum Bersama Kepala BPOM RI, Bahas Ancaman Silent Pandemic Resistensi Antimikroba

Friday, July 31, 2026, Friday, July 31, 2026 WIB Last Updated 2026-08-10T11:00:17Z

 

Unsri menggelar kuliah umum bersama Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI, Prof. dr. Taruna Ikrar, M.Biomed., Ph.D., Jumat (31/7/2026). (Foto: IST)



PUYANG – Universitas Sriwijaya (UNSRI) menggelar kuliah umum bertajuk “Ancaman Silent Pandemic Resistensi Mikroba dan Pengendaliannya” dengan menghadirkan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI, Prof. dr. Taruna Ikrar, M.Biomed., Ph.D., Jumat (31/7/2026).


Kegiatan yang berlangsung di Gedung Fakultas Ilmu Komputer (Fasilkom) Lantai 7 Kampus UNSRI Palembang tersebut juga menghadirkan Direktur PT Nose Herbal Indo, Mr. Kim Fai Ho.


Kuliah umum diawali dengan penanaman pohon sebagai simbol komitmen terhadap keberlanjutan. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan sambutan Wakil Rektor III Bidang Penelitian, Pengabdian kepada Masyarakat, Inovasi, Hilirisasi, dan Teknologi Informasi UNSRI, Prof. Dr. dr. Radiyati Umi Partan, SpPD-KR, M.Kes.


Dalam sambutannya, Radiyati menyebut kuliah umum tersebut menjadi kesempatan bagi mahasiswa untuk memperoleh wawasan langsung dari Kepala BPOM RI mengenai resistensi antimikroba yang menjadi salah satu isu kesehatan global.


Ia berharap kegiatan tersebut juga menjadi momentum awal untuk memperkuat kolaborasi UNSRI dan BPOM RI dalam bidang pendidikan, penelitian, inovasi, dan pengabdian kepada masyarakat.


Resistensi Antimikroba Jadi Ancaman Global

Pada sesi pertama, Prof. dr. Taruna Ikrar memaparkan materi mengenai Antimicrobial Resistance (AMR) atau resistensi antimikroba.


Ia menjelaskan, AMR kini menjadi perhatian dunia karena berkembang secara perlahan, tetapi dapat menimbulkan dampak besar terhadap kesehatan masyarakat. Kondisi tersebut kerap disebut sebagai silent pandemic.


Resistensi antimikroba terjadi ketika mikroorganisme tidak lagi merespons obat antimikroba secara efektif. Salah satu faktor yang berkontribusi terhadap masalah tersebut adalah penggunaan antimikroba, termasuk antibiotik, secara tidak bijaksana.


Dampaknya tidak hanya berupa meningkatnya kesulitan dalam pengobatan. AMR juga dapat meningkatkan angka kesakitan dan risiko kematian, sekaligus menambah beban ekonomi akibat meningkatnya biaya pelayanan kesehatan dan menurunnya produktivitas.


Menurut Taruna, pengendalian AMR membutuhkan pendekatan One Health yang mengintegrasikan kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan.


Pendekatan tersebut perlu didukung berbagai strategi, mulai dari penguatan kebijakan dan regulasi, inovasi riset, pengembangan vaksin, peningkatan kapasitas diagnostik, edukasi masyarakat, hingga kerja sama lintas sektor.


BPOM Perkuat Pengawasan Antibiotik

Dalam paparannya, Kepala BPOM RI juga menjelaskan sejumlah upaya yang dilakukan lembaganya dalam pengendalian AMR.


Upaya tersebut mencakup penguatan regulasi, pengawasan distribusi antibiotik, surveilans residu antibiotik pada pangan, edukasi masyarakat, serta penyusunan Rencana Aksi Nasional Pengendalian Resistensi Antimikroba.


Taruna juga menekankan pentingnya pengembangan vaksin sebagai langkah preventif untuk mengurangi ketergantungan terhadap antibiotik sekaligus mendukung kemandirian vaksin nasional.


Ia menegaskan, setiap kebijakan yang diambil BPOM pada akhirnya diarahkan untuk melindungi kesehatan masyarakat.


“Setiap izin yang saya setujui, setiap persoalan yang saya selesaikan, dan setiap dokumen yang saya tanda tangani bukan sekadar prosedur, tetapi merupakan langkah untuk melindungi kehidupan manusia,” pungkasnya.



Sesi kedua menghadirkan Direktur PT Nose Herbal Indo, Mr. Kim Fai Ho, yang mengangkat tema Academic, Business, and Government (ABG) sebagai fondasi dalam mendorong inovasi dan pembangunan berkelanjutan.


Kim menjelaskan bahwa perguruan tinggi memiliki peran sebagai penghasil ilmu pengetahuan dan inovasi melalui kegiatan penelitian. Sementara itu, dunia usaha berperan mengembangkan hasil riset menjadi produk dan teknologi yang dapat memberikan manfaat bagi masyarakat.


Adapun pemerintah memiliki peran dalam menciptakan regulasi dan ekosistem yang mendukung pengembangan inovasi.


Kolaborasi antara akademisi, dunia usaha, dan pemerintah dinilai penting untuk mempercepat hilirisasi hasil penelitian, meningkatkan daya saing industri nasional, serta menghadirkan solusi inovatif terhadap berbagai tantangan, khususnya di bidang kesehatan dan pembangunan.


Kegiatan tersebut turut dihadiri Dekan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA), Kepala Balai Besar POM di Palembang, para pimpinan direktorat UNSRI, dosen, tenaga kependidikan, serta mahasiswa dari berbagai fakultas.


Peserta mengikuti kegiatan dengan antusias. Hal tersebut terlihat dari aktifnya mahasiswa dan peserta dalam sesi diskusi dan tanya jawab bersama kedua narasumber.


Penggunaan antibiotik secara bijak, pengendalian resistensi antimikroba, serta pentingnya kolaborasi akademisi, dunia usaha, dan pemerintah menjadi sejumlah isu yang mendapat perhatian dalam diskusi.


Melalui kuliah umum tersebut, UNSRI menegaskan komitmennya menghadirkan forum akademik yang membahas isu strategis nasional dan global. 


Kegiatan ini sekaligus menjadi bagian dari upaya memperkuat sinergi UNSRI dengan pemerintah dan dunia industri dalam pengembangan ilmu pengetahuan, inovasi, serta peningkatan kualitas sumber daya manusia.*


Komentar
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. #JernihBerkomentar
  • UNSRI Gelar Kuliah Umum Bersama Kepala BPOM RI, Bahas Ancaman Silent Pandemic Resistensi Antimikroba

Terkini

Topik Populer