| Empat siswa SDIT Al Furqon Palembang, Shakila, Qonita, Rasya, dan Indra. (Foto: IST) |
PUYANG – Bangun pagi, salat tepat waktu, bekal sehat, sampai berani menegur teman yang berbuat tidak baik.
Kebiasaan sederhana itu dijalani empat siswa SDIT Al Furqon Palembang, Shakila, Qonita, Rasya, dan Indra, setelah terpilih sebagai Sahabat Sekolah Dasar Nasional 2026.
Mereka diharapkan menjadi agen perubahan di lingkungan sekolahnya.
Perjalanan keempatnya tidak instan. Di tingkat sekolah, mereka harus bersaing dengan ratusan murid lain. Setelah terpilih, mereka melewati seleksi bertahap di tingkat kota, provinsi, dan akhirnya nasional.
Hasilnya, keempat siswa itu dilantik sebagai Sahabat Sekolah Dasar Nasional 2026. Pihak sekolah juga mengukuhkan mereka sebagai pelopor dan teladan dalam membangun kebiasaan baik di sekolah.
“Sejak saat itulah, perjalanan dan tanggung jawab kami sesungguhnya dimulai,” tutur mereka.
Tujuh Kebiasaan dan Gerakan Anti-Bullying
Selama kurang lebih dua bulan, keempatnya menjalankan aksi nyata untuk membiasakan tujuh kebiasaan anak Indonesia hebat.
Kebiasaan itu meliputi bangun pagi, beribadah, makan sehat dan bergizi, berolahraga, gemar belajar, bermasyarakat, dan tidur cepat. Mereka juga mengajak teman-temannya mewujudkan sekolah ramah anak dan meniadakan perundungan (bullying).
Pada tahap awal, bangun pagi menjadi tantangan terberat. Rasa malas dan keinginan tidur lebih lama sempat membayangi mereka. Seiring waktu, mereka belajar mengatur waktu.
Dalam beribadah, mereka berusaha salat lima waktu tepat waktu, menjaga wudu, dan menambah salat duha. Mereka juga mulai membiasakan diri menghafal Al-Qur’an dan menerapkan isinya dalam keseharian.
Soal makanan, godaan datang dari makanan cepat saji dan produk bermonosodium glutamat (MSG). Mereka berusaha memilih makanan sehat dan memperbanyak minum air putih.
Untuk menjaga tubuh tetap bugar, mereka berolahraga dan memainkan permainan tradisional bersama teman. Sebelum pelajaran dimulai, mereka membiasakan senam pagi atau peregangan. Menurut mereka, kebiasaan ini membantu meningkatkan konsentrasi belajar.
Tidak Selalu Mulus
Para siswa mengaku perjalanan mereka tidak selalu mudah. Mereka masih kerap merasa malas, lupa mengatur waktu, atau kurang sabar menghadapi teman. Perbedaan pendapat dan kesalahpahaman pun sesekali muncul.
Dari situ mereka belajar meminta maaf, memaafkan, bekerja sama, dan saling mengingatkan.
Dalam belajar, mereka berusaha saling membantu agar tidak berkembang sendirian. Bagi mereka, agen perubahan adalah orang yang mampu mengajak orang lain bersemangat belajar.
Mereka belajar menghargai orang lain, membantu sesama, dan peduli lingkungan, baik di sekolah maupun di tempat tinggal.
Perubahan Menular ke Teman dan Sekolah
Perubahan itu, menurut mereka, kini mulai dirasakan di lingkungan sekolah. Teman-teman mulai datang tepat waktu tanpa perlu diingatkan guru. Kebersihan lingkungan dijaga bersama, membawa bekal sehat makin lazim, dan olahraga menjadi bagian dari keseharian.
Persaingan belajar pun berlangsung sehat. Mereka juga menyebut budaya memilih-milih teman atau membicarakan teman di belakang kian jarang ditemui di sekolah mereka.
Mereka berupaya tidak mengejek, tidak mengucilkan, dan tidak merundung saat burada di sekolah. Mereka juga berani menegur bila ada perilaku yang menyakiti teman.
“Sekolah ramah anak bukan hanya sekolah yang memiliki fasilitas bagus, tetapi sekolah tempat setiap anak merasa aman, dihargai, diterima, dan bahagia,” ujar mereka.
Untuk menjaga kualitas tidur, mereka juga membiasakan diri tidak menggunakan gawai sebelum tidur.
Amanah, Bukan Sekadar Gelar
Bagi keempat siswa ini, predikat Sahabat Sekolah Dasar Nasional bukan sekadar gelar. Mereka memandangnya sebagai amanah untuk memberi contoh dan mengajak lebih banyak teman berbuat baik.
“Menjadi anak hebat bukan berarti harus selalu sempurna. Kami masih belajar, masih bisa melakukan kesalahan, tetapi kami mau berubah dan terus memperbaiki diri,” kata mereka.
Mereka berharap perubahan ini tidak berhenti pada diri sendiri, tetapi menginspirasi teman, keluarga, dan seluruh warga sekolah.
“Perubahan besar selalu dimulai dari langkah kecil yang dilakukan bersama-sama,” tutup mereka.(Ril)
