![]() |
FISIP Universitas Sriwijaya bekerja sama dengan Direktorat Promosi Kebudayaan Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia menyelenggarakan LOKASI 2026. (Foto: IST) |
PUYANG – Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Sriwijaya bekerja sama dengan Direktorat Promosi Kebudayaan Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia menyelenggarakan kegiatan Lokakarya Konten Promosi (LOKASI) bertema “The Power of Maritime Culture in Nusantara”.
Kegiatan yang telah memasuki tahun kedua ini berlangsung selama tiga hari, 20–22 April 2026, secara hybrid di Ruang Fasilkom Tower Lantai 7 Universitas Sriwijaya Palembang serta melalui live streaming YouTube.
Kegiatan ini dihadiri berbagai pemangku kepentingan dari kalangan akademisi, peneliti, pemerintah, serta praktisi kebudayaan.
Dekan FISIP Universitas Sriwijaya, Dr. Ardiyan Saptawan, M.Si., dalam sambutannya menegaskan pentingnya mengangkat kembali budaya sebagai bagian dari identitas bangsa.
Ia menyampaikan bahwa Sriwijaya dikenal sebagai kekuatan maritim besar pada masanya, sehingga tema lokakarya menjadi relevan untuk mengingatkan kembali masyarakat terhadap akar sejarah dan budaya Nusantara.
Menurutnya, melalui kegiatan ini diharapkan tumbuh kesadaran kolektif untuk membangun bangsa yang mandiri, kuat, serta mampu memajukan budaya sebagai bagian dari pembangunan.
Pada sesi pertama, Anindita Kusuma Listya, S.Sos., MPP, Staf Ahli Menteri Kebudayaan Bidang Ekonomi dan Industri Kebudayaan, memaparkan bahwa Indonesia memiliki kekayaan budaya yang sangat besar, terdiri dari 1.340 kelompok etnis dan 718 bahasa daerah.
Selain itu, Indonesia juga memiliki modal budaya berupa warisan kebudayaan yang telah diakui dunia, termasuk 16 warisan budaya benda yang terdaftar di UNESCO.
Selanjutnya, Dr. Wahyu R. Andhifani, S.S., M.M., Peneliti Ahli Muda BRIN, menjelaskan perspektif historis mengenai Sriwijaya. Berdasarkan temuan prasasti, kata “Sriwijaya” kerap muncul bersamaan dengan istilah datu, yang menunjukkan identitas Melayu kuno.
Ia juga menyebutkan banyak temuan arca di perairan Sungai Musi menuju kawasan Pusri, serta manik-manik yang ditemukan di wilayah pantai timur Sumatera Selatan. Ia menegaskan bahwa Sriwijaya merupakan bagian dari identitas kolektif masyarakat saat ini.
Pemaparan terakhir disampaikan oleh Prof. Farida R. Wargadalem, Guru Besar Ilmu Sejarah Universitas Sriwijaya. Ia menjelaskan bahwa Palembang sejak masa lampau memiliki posisi strategis antara wilayah hulu dan hilir yang menjadikannya sebagai pusat budaya bahari.
Potensi tersebut tercermin dari mata pencaharian masyarakat yang banyak bergerak di sektor perikanan, serta kekayaan kuliner berbahan dasar ikan seperti pempek yang terus berkembang melalui inovasi.
Melalui kegiatan ini diharapkan muncul peningkatan kesadaran akan pentingnya promosi budaya sebagai upaya mendorong pertumbuhan sektor pariwisata di Sumatera Selatan.
Palembang sebagai salah satu kota tertua di Indonesia memiliki potensi besar untuk dipromosikan melalui kekuatan budaya maritim.
Promosi budaya yang terintegrasi diharapkan mampu meningkatkan daya tarik wisata serta memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi daerah, termasuk mendorong capaian ekonomi hingga 80 persen melalui sektor berbasis budaya dan pariwisata.*
