PUYANG - Pernahkah Anda melihat minyak goreng yang digunakan berulang kali hingga warnanya berubah menjadi kehitaman?
Atau bahkan mungkin masih menggunakannya demi menghemat pengeluaran rumah tangga?
Di tengah kebutuhan untuk menghemat pengeluaran rumah tangga, sebagian masyarakat masih menggunakan minyak goreng berulang kali.
Namun, apakah cara penghematan tersebut sebanding dengan risiko yang ditimbulkan?
Kandungan zat berbahaya dalam minyak bekas dapat meningkat setiap kali dipanaskan ulang dan berpotensi memengaruhi kesehatan tubuh.
Kondisi inilah yang memunculkan pertanyaan penting: apakah minyak jelantah benar-benar solusi hemat, atau justru ancaman kesehatan yang perlahan membahayakan masyarakat?
Menjawab pertanyaan tersebut, kelompok mahasiswa didampingi dosen pembimbing, apt. Rafiqah Nur Viviani, S.Farm., M.S.Farm dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA) Program Studi Farmasi Universitas Sriwijaya memberikan analisis secara ilmiah.
Tim analisis ilmiah ini terdiri dari enam orang mahasiswa Chika Putri Meidy (08061382530107), Meisya Nabila Putri (08061382530093), Parisha Adyatama (08061282530073), Mutiara Jannah (08061382530101),
Aisyah Salsabilah (08061282530065), Lingga Aulia (08061382530123).
Karakteristik dan Proses Terbentuknya Minyak Jelantah
Tanda minyak sudah rusak dapat terlihat dari warnanya yang menghitam, berbau tengik, busa berlebih, dan tekstur yang kental.
Perubahan ini terjadi karena minyak dipanaskan berulang kali sehingga kualitasnya menurun dan kandungan lemaknya mengalami kerusakan.
Setiap kali minyak dipanaskan, lemak di dalamnya dapat rusak dan menghasilkan senyawa yang tidak baik bagi tubuh. Pemanasan berulang membuat minyak lebih mudah teroksidasi, cepat tengik, dan
kehilangan kualitas gizinya. Pemanasan berulang juga dapat menghasilkan radikal bebas, aldehid, peroksida, dan senyawa lain yang berkaitan dengan stres oksidatif.
Senyawa-senyawa tersebut terbentuk akibat kerusakan lemak pada suhu tinggi dan dapat berdampak buruk bagi kesehatan jika minyak terus digunakan.
Dampak Negatif Minyak Jelantah Bagi Tubuh
Konsumsi minyak jelantah secara terus-menerus dalam jangka panjang dapat meningkatkan paparan senyawa hasil oksidasi dan radikal bebas yang berpotensi menyebabkan stres oksidatif.
Kondisi ini dapat berkontribusi terhadap kerusakan sel dan meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular, seperti penyakit jantung, serta berpotensi meningkatkan kadar kolesterol dalam darah.
Selain itu, penggunaan minyak jelantah juga dapat menurunkan kualitas dan nilai gizi makanan, karena sebagian zat gizi dapat rusak selama proses pemanasan berulang.
Makanan yang digoreng dengan minyak bekas umumnya juga memiliki warna lebih gelap, aroma tengik, dan rasa yang kurang segar.
Dampak Minyak Jelantah untuk Lingkungan
Apabila dibuang ke saluran air atau tanah, minyak jelantah dapat menimbulkan masalah lingkungan. Pembuangan minyak jelantah ke selokan dapat menyebabkan saluran air tersumbat.
Minyak yang masuk ke lingkungan perairan juga dapat memperburuk kualitas air dan mengganggu ekosistem air.
Sebagian masyarakat menganggap minyak bekas hanyalah limbah biasa, padahal jika dikelola dengan baik minyak jelantah dapat dimanfaatkan kembali menjadi produk yang lebih berguna.
Kotak Informasi: Aman Menggunakan Minyak Goreng
Minyak goreng sebaiknya digunakan maksimal 2–3 kali dan tidak dipanaskan berlebihan hingga berasap. Setelah dipakai, minyak perlu didinginkan lalu disimpan dalam wadah tertutup rapat dan berwarna gelap.
Minyak sebaiknya segera dibuang jika sudah hitam, berbusa, atau berbau tengik. Penyaringan hanya membantu menghilangkan sisa makanan, tetapi tidak menghilangkan senyawa hasil pemanasan yang sudah larut dalam minyak.
Untuk menjaga mutu, jangan mencampur minyak lama dengan minyak baru. Minyak bekas dapat disalurkan ke bank sampah untuk didaur ulang.
Pemanfaatan Minyak Jelantah sebagai Produk Bernilai Ekonomis dan Ramah Lingkungan Pemanfaatan dan daur ulang minyak jelantah dapat memberikan keuntungan ekonomi bagi rumah tangga maupun pedagang karena dapat dijadikan peluang usaha dengan modal yang relatif terjangkau serta memiliki nilai jual.
Beberapa cara pemanfaatan minyak jelantah:
- Biodiesel
Melalui proses pengolahan yang sesuai standar, minyak jelantah dapat diolah menjadi biodiesel yang dimanfaatkan sebagai bahan bakar alternatif untuk kendaraan maupun industri.
- Sabun
Minyak jelantah dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku sabun cuci melalui proses saponifikasi. Namun, proses pengolahannya perlu dilakukan dengan prosedur yang tepat karena bahan basa seperti NaOH atau KOH bersifat korosif.
- Lilin Aromaterapi
Minyak jelantah juga dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku lilin aromaterapi dengan penambahan bahan seperti parafin, pewarna, dan essential oil. Proses pembuatannya dilakukan melalui pengolahan yang tepat dan aman sehingga menghasilkan produk yang bernilai guna dan bernilai jual.
Hemat Cerdas, Bukan Hemat Sembarang
Perdebatan soal minyak jelantah bukan pilihan antara hemat atau sehat — keduanya bisa sejalan. Yang dibutuhkan hanyalah informasi yang jujur, alternatif yang terjangkau, dan kebijakan yang sungguh-sungguh berpihak pada rakyat.
Penulis: Parisha Adyatama, Mutiara Jannah, Meisya Nabila Putri, Aisyah Salsabilah, Lingga Aulia dan Chika Putri Meidy - Mahasiswi Program Studi Farmasi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA) Universitas Sriwijaya.
