terkini

Masjid Lawang Kidul: Jejak Dakwah Ki Merogan yang Tetap Berdiri Kokoh Sejak 1819

Sunday, February 15, 2026, Sunday, February 15, 2026 WIB Last Updated 2026-02-15T05:00:00Z

Tampilan gerbang Masjid Lawang Kidul di Lorong Lawang Kidul, Kecamatan Ilir Timue II, Palembang. (Foto: Putri Ayu Kharisma)

PUYANG
- Masjid Lawang Kidul yang berlokasi di kawasan Lorong Lawang Kidul, Kecamatan Ilir Timur II, Palembang, ternyata menyimpan sejarah panjang perjuangan dakwah seorang ulama besar bernama Ki Muara Ogan atau lebih dikenal dengan nama Ki Merogan. 


Masayu Sabah (58), Zuriat atau keturunan keempat dari Ki Merogan, menjelaskan bahwa masjid Lawang Kidul telah dibangun sejak tahun 1819 oleh Ki Merogan, seorang ulama yang menyebarkan agama Islam dengan menyusuri sungai menggunakan perahu. 


Masjid Lawang Kidul sendiri dibangun sebagai bagian dari perjuangan dakwahnya dengan delapan tiang utama yang identik dengan masjid kembarannya di Kertapati.


“Beliau membangun masjid ini dari ruang utama, sementara bangunan tingkat di bagian belakang adalah tambahan. Dulu rumah beliau hanya pondok kecil di belakang sini,” ujar Masayu.


Nama masjid ini merujuk pada lokasi tempatnya berdiri, yakni di kawasan Lawang Kidul. Meskipun masyarakat mengenalnya sebagai Masjid Ki Merogan, untuk membedakan dengan masjid yang sama di Kertapati, masjid ini lebih dikenal dengan nama Masjid Lawang Kidul.


Tak hanya digunakan untuk ibadah, masjid ini sejak awal juga menjadi tempat belajar agama para murid-murid Ki Merogan yang sebagian telah menjadi tokoh agama.


Menariknya, hingga kini bangunan utama masjid tersebut masih asli.

 

“Tiangnya masih sama seperti dulu, sama seperti yang ada di masjid Ki Merogan. Hanya ada penambahan bangunan di belakang,” tambahnya.


Masjid Lawang Kidul juga memiliki nilai historis lain. Pada masa penjajahan Jepang, masjid ini pernah menjadi tempat persembunyian hingga sempat dibom meski meleset dan jatuh ke sungai. 


Disebutkan bahwa Ki Merogan memiliki dua anak, yakni Abu Mansyur yang menetap di Masjid Lawang Kidul serta Usman di Kertapati.


Seluruh keturunan Ki Merogan dimakamkan di samping Masjid Ki Merogan di Kertapati, dimana terdapat tempat peristrahatan terakhir khusus untuk keluarganya.


Meskipun telah disebut sebagai cagar budaya oleh pemerintah, pengelolaan masjid ini tetap dipegang oleh keluarga keturunan Ki Merogan. Hal ini sesuai dengan wasiatnya yang meminta agar masjid dikelola oleh Zuriat langsung. 


Namun demikian, masjid tetap terbuka untuk umum dan berbagai kegiatan dakwah lainnya, termasuk kehadiran jamaah tabligh dan para guru agama yang menyebarkan Islam ke berbagai daerah.


“Harapan kami, masjid ini tetap lestari dan megah. Keasliannya tetap dijaga, kalau pun ada perbaikan tidak mengubah struktur dan bentuk aslinya. Penambahan boleh saja, tapi tetap menjaga nilai sejarah,” tutup Masayu.


Masjid Lawang Kidul bukan hanya tempat ibadah, tetapi juga simbol perjuangan, pendidikan, dan pewarisan nilai-nilai Islam dari generasi ke generasi. (Putri Ayu Kharisma)

Komentar
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. #JernihBerkomentar
  • Masjid Lawang Kidul: Jejak Dakwah Ki Merogan yang Tetap Berdiri Kokoh Sejak 1819

Terkini