terkini

Rumah Tua di Tepian Sungai Musi: Warisan Sejarah yang Perlahan Mulai Ditinggalkan

Monday, January 19, 2026, Monday, January 19, 2026 WIB Last Updated 2026-01-19T05:00:00Z

Rumah Tua di Tepian Sungai Musi. (Foto: Nabilla Hidayati)

PUYANG
- Di sepanjang aliran sungai musi, terdapat rumah-rumah tua yang menjadi saksi sejarah kota Palembang sejak abad ke-17. 


Rumah ini bukan hanya bangunan biasa, melainkan bentuk warisan turun-temurun sejak masa Kesultanan Palembang Darussalam.


Limnah (76), salah satu warga yang telah lama menjadi penghuni disana menceritakan awal mula masyarakat Palembang menetap di tepian Sungai Musi.


“Dulu rumah rakit dan rumah panggung disini memang sengaja dibangun oleh masyarakat asli Palembang,” ungkapnya.


Selain tempat tinggal, adapun fungsi utamanya adalah sebagai tempat berdagang masyarakat dahulu.


Jauh berbeda dengan tampilan rumah sekarang, rumah dimasa itu biasanya berbentuk panggung dengan tiang tinggi dari kayu ulin atau tembesu. Atapnya berbentuk Limas dengan jendela yang besar, serta tak jarang ada rumah yang memiliki tambatan perahu di depannya. 


Namun kini, banyak rumah tua tersebut telah rusak digantikan oleh bangunan beton, atau bahkan ditinggalkan. 


Meski begitu, masih ada sejumlah rumah tradisional yang bertahan, khususnya di kawasan 1 Ilir, 10 Ulu, dan 7 Ulu. 


Beberapa di antaranya bahkan telah masuk dalam daftar Cagar Budaya, meski belum semuanya mendapat perawatan yang layak.


“Rumah-rumah ini mempunyai nilai bersejarah karena mencerminkan gaya hidup masyarakat Palembang zaman dahulu, serta bangunan lokal yang ramah terhadap lingkungan,” ucap Limnah.


Kondisi sungai yang kian tercemar dan mengalami pendangkalan juga memengaruhi keberadaan rumah-rumah ini. Perubahan arus menyebabkan kerusakan pada fondasi rumah panggung, sementara air sungai yang dulunya jernih kini sulit digunakan untuk aktivitas sehari-hari.


“Beberapa masih dirawat dengan gotong royong, namun banyak juga yang tidak sanggup secara ekonomi. Kadang rumah dibiarkan rusak atau dijual,” tambahnya.


Pemilik rumah tua di pinggiran Musi umumnya merupakan keturunan saudagar, bangsawan, atau pegawai Kesultanan Palembang pada masa lampau. 


Tak sedikit dari rumah tersebut pernah menjadi tempat persembunyian para pejuang saat agresi militer Belanda atau tempat rapat rahasia dalam masa perjuangan kemerdekaan.


“Banyak rumah dijadikan tempat persembunyian pejuang saat agresi militer Belanda, atau digunakan sebagai tempat rapat rahasia saat masa pergerakan kemerdekaan,” ujar Limnah.


Namun, pelestarian rumah-rumah tua ini tidaklah mudah. Biaya perawatan yang tinggi dan kurangnya kesadaran akan nilai sejarahnya menyebabkan banyak rumah dibiarkan rusak atau dijual.


“Harapannya ada program pelestarian dari pemerintah, rumah-rumah ini bisa dijadikan museum hidup atau wisata sejarah sungai, agar generasi muda tahu akar budayanya,” tutupnya. (Nabilla Hidayati)


Komentar
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. #JernihBerkomentar
  • Rumah Tua di Tepian Sungai Musi: Warisan Sejarah yang Perlahan Mulai Ditinggalkan

Terkini