![]() |
| Relief Perang Lima Hari Lima Malam di MONPERA SUMBAGSEL. (Foto: Daffa Aqilah Febriyani) |
PUYANG - Kemerdekaan bagi suatu wilayah pastinya dicapai melalu banyak keringat dan tumpah darah para pejuangnya. Setelah Indonesia merdeka di Agustus 1945, Kota Palembang didatangi para sekutu pada tanggal 12 Oktober 1945.
Tour Guide Monumen Perjuangan Rakyat Bagian Sumatera Selatan (MONPERA SUMBAGSEL), Muhammad Romiansyah (21), menceritakan kisah penuh perjuangan dibalik Perang Lima Hari Lima Malam yang melibatkan banyak tokoh kemerdekaan Indonesia.
Perang ini dilatarbelakangi oleh Sekutu yang memasuki wilayah Palembang untuk mengurus tawanan perang militer mereka dan mengambil senjata dari militer Jepang pada 12 Oktober 1945.
“Saat itu Sekutu engga datang sendirian, tapi sama Belanda dan NICA. Waktu itu posisinya masyarakat Palembang belum tau kalau Indonesia sudah merdeka karena ditutupi oleh Belanda,” jelas Romi.
Setahun setelahnya, Sekutu angkat kaki dari Palembang dan menyerahkan wilayah yang mereka duduki ke tangan Pemerintah Belanda. Lalu setelah mengadakan pertemuan, Pemerintah Belanda dan Indonesia sepakat untuk membagi batas wilayah.
“Setelah ada kesepakatan itu Belanda malah melanggar garis demarkasi. Jadi rakyat marah dan mendesak Belanda sampai akhirnya mau diadakan perundingan lagi,” imbuh Romi.
Memanfaatkan kesempatan tersebut, Belanda diam-diam mempersiapkan diri untuk menyerang dan memaksa para pejuang untuk meninggalkan wilayah Palembang padaa tanggal 1 Januari 1947.
Berbagai senjata pun dikerahkan, mulai dari bom hingga granat melalui seluruh jalur transpotasi yang ada.
Peperangan itu berlangsug selama Lima Hari Lima Malam dan berlokasi di 3 tempat, yaitu dari simpang Charitas, Masjid Agung dan berakhir di Plaju.
Lalu pada akhirnya perang berakhir pada tanggal 5 Januari 1947, dimana Belanda setuju untuk mundur dari Palembang setelah mengadakan pertemuan antara pemimpin Belanda dan Jepang.
“Perang dimulai dari tanggal 1 sampai 5 Januari 1947 dan menghancurkan seperlima Kota Palembang,” ujar Romi.
Perang tersebut tentunya tak lepas dari peranan para Pejuang Kemerdekaan Indonesia. Bahkan, peristiwa Perang Lima Hari Lima Malam diabadikan dalam Relief Museum MONPERA.
Romi menyebutkan, ada 7 tokoh yang terlibat dan kini turut diabadikan dalam lukisan dan patung perunggu setengah dada.
Diantaranya yaitu Dr. Adenan Kapau Gani, drg. M. Isa, Haji Abdul Rozak, Jendral Haji Bambang Utoyo, Brigadir Jendral Hasan Kasim, Kolonel Haji Barlian, dan Mayor Jendral (Purn) H. Harun Sohar. Ketujuhnya merupakan pejuang hebat yang kini tercatat di dalam sejarah.
Melalui kisah perang Lima Hari Lima Malam, Romi berharap agar para anak muda dapat mempelajari sifat juang dan pantang menyerah para pejuang kita terdahulu, serta semakin banyak yang tertarik untuk mengetahui kisah-kisah sejarah sehingga bisa terus diestarikan. (Nazayla Putri)
.jpg)