.jpg)
Model Mang Ucup. (Foto: Nazayla Putri)
PUYANG - Kota Palembang seringkali disebut sebagai kotanya Pempek. Tapi tak banyak yang tahu, selain pempek masih banyak lagi kuliner yang wajib dicoba saat berkunjung ke Kota tertua di Indonesia itu.
Salah satunya adalah Model, makanan yang terbuat dari ikan dan tepung berpadu kuah hangat.
Di antara banyaknya Warung Model terkenal di Palembang, Model Mang Ucup bisa jadi pilihan cocok untuk mengisi perut yang lapar.
Berlokasi di Jalan Jenderal Ahmad Yani Seberang Ulu II Kota Palembang, warung makan ini didirikan oleh Muhammad Yusuf (42), ketika ia berhenti menjadi Pelaut 2014 lalu.
“Dulu itu sulit sekali cari kerja, akhirnya buka usaha model atas saran keluarga,” jelas Yusuf.
Sebelum 3 tahun belakangan menempati ruko yang dikontrak pertahun, Yusuf memulai usahanya dengan gerobak kaki lima.
Pemberian nama Model Mang Ucup diberikan secara tidak sengaja atas usulan teman-temannya dan melekat hingga sekarang.
“Awal buka usaha bingung kasih nama apa. Ada waktu dimana kumpul bareng temen dan mereka kasih saran nama Model Mang Ucup,” ucap Yusuf.
Warung Model tersebut beroperasi dari jam 6 pagi sampai 7 malam setiap harinya, sementara untuk proses memasak tak bisa diperkirakan waktunya.
Menu yang dijual pun cukup beragam. Ada model telur di harga Rp11.000, model isi tahu dan tekwan Rp8.000, model gandum Rp6.000, serta bisa mix antara model dan tekwan sesuai selera.
Untuk minuman sendiri terdapat es teh, es jeruk, hingga es teh susu seharga Rp8.000 saja.
Dalam satu hari, Model Mang Ucup bisa kedatangan 30 sampai 100 pembeli jika sedang ramai-ramainya.
Yusuf mengaku, usahanya telah memiliki banyak pelanggan yang sering memesan dalam jumlah besar. Di antaranya adalah dealer-dealer Honda, Mitsubishi, Daihatsu, hingga orang Kejaksaaan.
“Untuk pesanan 50 porsi bisa langsung kita siapkan hari itu juga. Tapi kalau lebih dari 100 harus berkabar dulu satu atau dua hari sebelumnya,” ujarnya.
Kesuksesan tersebut merupakan hasil dari trik promosi Yusuf melalui satu pelanggan ke pelanggan lainnya. Ia tak menggunakan media sosial seperti pedagang kebanyakan, melainkan hanya mengandalkan kualitas masakannya.
Menurutnya, ada 3 hal yang menjadi alasan kenapa Model Mang Ucup bisa disukai oleh banyak orang.
“Yang pertama saya engga banyak gunain penyedap dan lebih dominan gula. Kedua, cabai sambal itu direbus dulu baru diblender. Dan yang ketiga penyajiannya pakai dua pisau bukan garpu sama talenan, jadi lebih higienis dan praktis,” ujar Yusuf.
Selain itu, kuah kaldu yang masih original dan harga yang terjangkau juga menjadi alasan dibaliknya.
Selama 11 tahun menjalankan usaha, Yusuf mengaku 3 tahun awal merintis dan era covid merupakan masa-masa tersulit baginya.
Untuk melewati tantangan tersebut, ia harus meminimalisir berbagai pengeluaran yang sekiranya tidak terlalu diperlukan, mengelola keuangan dengan lebih baik, serta harus pintar-pintar melihat situasi pasar.
Kedepannya Yusuf berencana untuk membuka cabang baru di Talang Jambe. Namun dalam waktu dekat memilih fokus mengembangkan warung utama.
Ia menambahkan, krisis keuangan yang melanda berbagai sektor saat ini berdampak banyak pada usahanya. Ia berharap agar semuanya lekas membaik seperti sedia kala.
“Akhi-akhir ini ekonomi kita bermasalah dan semuanya terdampak. Jadi para pembeli pun harus mikir dua kali mau makan diluar atau beli keperluan pokok. Semoga semua kembali stabil seperti semula,” pungkasnya. (Nazayla Putri)