.jpg)
Muhammad (64), Penjual Telok Abang dan Mainan Khas Kemerdekaan di Palembang. (Foto: Nazayla Putri)
PUYANG - Tanggal 17 Agustus menjadi hari penuh kemeriahan di seluruh penjuru Indonesia dalam memperingati hari kemerderkaan. Berbagai perayaan, tradisi, dan kebudayaan melebur menjadi satu dalam hari yang penuh khidmat.
Sama seperti tahun-tahun sebelumnya, Kota Palembang yang merupakan Kota tertua di Indonesia tentunya turut merayakan hari lahir Indonesia.
Dari jauh-jauh hari warga disibukkan terhadap rencana perayaan dan lomba, begitupun dengan para pedagang yang hanya bermunculan saat 17-an.
Salah satunya adalah Muhammad (64), seorang penjual Telok Abang beserta beragam mainan khas hari kemerdekaan.
“Saya udah lama banget jualan Telok Abang dari tahun 80-an, bisa dibilang turun-temurun dari Kakek-Nenek dulu,” ungkap Muhammad.
Mainan yang disebut Telok Abang itu merupakan telur yang dicat berwarna merah dan dijual bersamaan dengan mainan lainnya, seperti Ketek, Kapal Layar serta Pesawat Terbang yang di cat berwarna warni namun didominasi warna merah putih.
Harganya pun beragam, mulai dari Rp20.000 untuk mainan saja dan Rp25.000 untuk mainan termasuk Telok Abang.
Muhammad bercerita, Telok Abang merupakan salah satu ciri khas Kota Palembang saat akan menyambut hari kemerdekaan.
Beberapa hari sebelum 17 Agustus, para pedagang akan mulai bermunculan di sepanjang jalan Plaju. Sehari setelahnya dagangan ditutup dan buka kembali tahun depan.
Muhammad menjelaskan, telur yang di cat berwarna merah adalah simbol keberanian dan warna bendera Negara Indonesia.
Sementara itu, mainan-mainan seperti Kapal dan Pesawat melambangkan transportasi yang sering digunakan para pahlawan terdahulu dalam memperjuangkan kemerdekaan.
“Semuanya yang pasti melambangkan kemerdekaan ya, karena saya memang hanya jualan satu tahun sekali saat 17-an dan setelahnya engga lagi,” imbuh Muhammad.
Dengan keistimewaan tersebut, jika ada barang yang tak habis terjual maka akan ia simpan baik-baik untuk dijual kembali tahun berikutnya.
Sebagai seorang penjual Telok Abang dari masa ke masa, Muhammad mengaku bersyukur karena masih ada masyarakat Palembang yang tertarik untuk membeli dagangannya.
“Alhamdulillah dalam satu hari kadang masih aja ada yang beli. Paling sering anak kecil tapi ada juga orang dewasa,” ujarnya.
Kedepannya, Muhammad berharap agar semakin banyak orang yang menaruh perhatian terhadap barang-barang yang melambangkan tradisi dan budaya Kota Palembang. (Nazayla Putri)