![]() |
| Puncak Peringatan HMS 2026 di Auditorium Siwabessy, Gedung Prof. dr. Sujudi, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta, Selasa (28/7/2026). (Foto: IST) |
PUYANG - Upaya Provinsi Sumatera Selatan dalam mempertahankan status eliminasi malaria mendapat apresiasi pada Puncak Peringatan Hari Malaria Sedunia (HMS) Tahun 2026 yang digelar di Auditorium Siwabessy, Gedung Prof. dr. Sujudi, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta, Selasa (28/7/2026).
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan, dr. H. Trisnawarman, M.Kes., Sp.KKLP., Subsp.FOMC., AIFO-K, yang juga merupakan mahasiswa Program Doktor (S3) Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Sriwijaya (UNSRI), menerima penghargaan tersebut mewakili Gubernur Sumatera Selatan H. Herman Deru.
Penghargaan diserahkan oleh Menteri Kesehatan Republik Indonesia sebagai bentuk apresiasi atas keberhasilan Sumatera Selatan mempertahankan eliminasi malaria.
Dalam rangkaian acara yang sama, Menteri Kesehatan juga menyerahkan Sertifikat Eliminasi Malaria kepada dua gubernur dan tujuh bupati yang telah memenuhi kriteria wilayah bebas malaria, serta menampilkan pameran profil daerah penerima penghargaan sebagai bentuk apresiasi.
Tak hanya itu, prestasi Sumatera Selatan juga terlihat dalam Kejuaraan Nasional Mikroskopis Malaria Tahun 2026 yang digelar di Hotel Blue Sky Pandurata, Jakarta Pusat.
Perwakilan Sumatera Selatan, Merry Kurniya Ningsih, A.Md.Kes. dari RSUD Sekayu, Kabupaten Musi Banyuasin, berhasil meraih Juara III. Capaian tersebut menunjukkan kemampuan tenaga kesehatan daerah dalam mendukung pemeriksaan dan diagnosis malaria secara cepat dan akurat.
Keberhasilan mempertahankan eliminasi malaria tidak terlepas dari kerja sama antara pemerintah daerah, fasilitas pelayanan kesehatan, tenaga kesehatan, serta perguruan tinggi. Kolaborasi berbagai pihak tersebut menjadi bagian penting dalam menjaga agar penularan malaria tidak kembali terjadi di Sumatera Selatan.
Dalam kesempatan tersebut, Dr. Trisnawarman menyampaikan apresiasi kepada Dekan FKM UNSRI, Prof. Dr. rer. med. Hamzah Hasyim, S.K.M., M.K.M., atas dukungan akademik dan kerja sama yang telah terjalin dalam mendukung pengendalian malaria serta berbagai program kesehatan masyarakat di Sumatera Selatan.
“Keberhasilan Sumatera Selatan mempertahankan eliminasi malaria tidak terlepas dari sinergi pemerintah daerah, fasilitas pelayanan kesehatan, tenaga kesehatan, dan perguruan tinggi. Kami juga mengapresiasi dukungan akademik dan kolaborasi FKM UNSRI dalam mendukung pengendalian malaria maupun berbagai permasalahan kesehatan masyarakat di Sumatera Selatan. Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan siap terus memperkuat kerja sama sesuai kewenangan dan prosedur yang berlaku untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat,” ujarnya.
Lebih lanjut, Dekan FKM UNSRI, Prof. Hamzah Hasyim, menilai keberhasilan mempertahankan eliminasi malaria membutuhkan komitmen bersama dari seluruh pihak.
Menurutnya, perguruan tinggi dapat berkontribusi melalui pendidikan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, serta penyediaan bukti ilmiah yang dapat mendukung kebijakan kesehatan.
“Kolaborasi antara akademisi dan pemerintah daerah menjadi modal penting untuk mencegah malaria kembali muncul maupun berkembang menjadi kejadian luar biasa (KLB), terutama di tengah tingginya mobilitas penduduk dari dan menuju wilayah yang masih memiliki risiko penularan,” ungkapnya.
Apresiasi terhadap capaian Sumatera Selatan juga disampaikan berbagai pemangku kepentingan nasional di bidang pengendalian malaria.
Keberhasilan tersebut dinilai sebagai hasil kerja sama berbagai pihak sekaligus menjadi pengingat untuk terus memperkuat surveilans, deteksi dini kasus impor, serta respons cepat terhadap potensi penularan kembali.
Sebagai mahasiswa Program Doktor FKM UNSRI, kiprah dr. Trisnawarman turut menunjukkan keterkaitan antara pengembangan kapasitas akademik dengan pelaksanaan kebijakan kesehatan masyarakat.
Sinergi UNSRI dan Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan diharapkan terus berkembang melalui inovasi, penguatan sistem kesehatan, dan pengembangan strategi pengendalian penyakit berbasis bukti ilmiah.
Capaian tersebut juga sejalan dengan upaya mendukung Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3 (Good Health and Well-being) melalui penguatan pelayanan dan pengendalian malaria, SDG 4 (Quality Education) melalui peningkatan kapasitas sumber daya manusia dan kolaborasi akademik, serta SDG 17 (Partnerships for the Goals) melalui kerja sama antara pemerintah, fasilitas kesehatan, dan perguruan tinggi dalam mendukung terwujudnya Indonesia bebas malaria. (*)
