![]() |
|
UNSRI menerima kunjungan Tim LPPM UPN "Veteran" Jakarta dalam rangka membahas pengembangan IIBN. (Foto: IST) |
PUYANG – Universitas Sriwijaya (UNSRI) melalui Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) menerima kunjungan Tim LPPM Universitas Pembangunan Nasional (UPN) "Veteran" Jakarta dalam rangka membahas pengembangan Indeks Implementasi Bela Negara (IIBN).
Pertemuan berlangsung di Ruang Rapat I Kantor Pusat Administrasi (KPA) Kampus Bukit Besar Palembang, Kamis (9/7/2026).
Tim LPPM UPN "Veteran" Jakarta dipimpin Kepala Pusat Penelitian, Dr. Muhammad Alif Razi, S.Pi., M.Sc., bersama tim peneliti dan pengembang aplikasi IIBN.
Rombongan diterima Ketua LPPM UNSRI, Prof. Dr. Ir. Muhammad Said, M.Sc., didampingi Sekretaris LPPM Prof. Dr. Yuanita Windusari, S.Si., M.Si., beserta jajaran.
Pertemuan tersebut menjadi forum diskusi sekaligus penjajakan kerja sama antara kedua perguruan tinggi dalam memperkuat implementasi nilai-nilai bela negara di lingkungan pendidikan tinggi melalui pendekatan yang terukur dan berbasis data.
Ketua LPPM UNSRI, Prof. Muhammad Said, menyampaikan apresiasi atas kunjungan Tim LPPM UPN "Veteran" Jakarta.
Menurutnya, pertemuan ini diharapkan menjadi langkah awal terjalinnya kolaborasi dalam pengembangan implementasi nilai-nilai bela negara di perguruan tinggi.
"Kami menyampaikan terima kasih dan apresiasi atas kunjungan Tim LPPM UPN 'Veteran' Jakarta. Kami berharap pertemuan ini menjadi awal kolaborasi dalam pengembangan implementasi nilai-nilai bela negara di lingkungan perguruan tinggi," ujarnya.
Sementara itu, Kepala Pusat Penelitian LPPM UPN "Veteran" Jakarta, Dr. Muhammad Alif Razi, menjelaskan bahwa kunjungan tersebut bertujuan melakukan sosialisasi sekaligus menghimpun masukan terhadap pengembangan Indeks Implementasi Bela Negara (IIBN) sebagai instrumen nasional untuk mengukur implementasi nilai-nilai bela negara di perguruan tinggi.
Menurutnya, IIBN dirancang untuk memetakan tingkat implementasi bela negara di setiap perguruan tinggi, menjadi instrumen evaluasi dan perbaikan berkelanjutan, mendorong penguatan karakter kebangsaan melalui pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi, serta menjadi dasar pembinaan yang lebih terarah.
Paparan mengenai konsep IIBN disampaikan Ketua Pelaksana IIBN, Danis Tri Saputra W., S.IP., M.IP. Ia menjelaskan latar belakang penyusunan indeks, konsep pengukuran implementasi bela negara, mekanisme penilaian beserta indikatornya, sistem klasterisasi perguruan tinggi, hingga pemanfaatan hasil indeks sebagai dasar penyusunan kebijakan penguatan budaya bela negara di perguruan tinggi.
Danis menegaskan bahwa IIBN tidak hanya mengukur aspek akademik, tetapi juga implementasi nilai-nilai bela negara dalam tata kelola institusi, kegiatan kemahasiswaan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, serta budaya organisasi kampus.
Pada kesempatan yang sama, Kraugusteeliana, M.Kom., M.M., memperkenalkan aplikasi dan website IIBN yang dirancang untuk mendukung proses pengisian instrumen secara daring.
Platform tersebut dilengkapi berbagai fitur, mulai dari dashboard institusi, monitoring capaian indikator, rekapitulasi hasil penilaian, hingga penyajian hasil klasterisasi perguruan tinggi.
"Website ini diharapkan dapat mempermudah proses pengumpulan data, validasi, evaluasi, serta penyusunan laporan implementasi bela negara secara nasional," jelasnya.
Dalam sesi diskusi, Tim LPPM UNSRI menyampaikan bahwa nilai-nilai Implementasi Bela Negara telah lama diterapkan melalui berbagai kegiatan akademik maupun nonakademik.
Implementasi tersebut diwujudkan melalui penyelenggaraan mata kuliah yang memuat nilai-nilai kebangsaan, pelaksanaan penelitian dan publikasi ilmiah yang mendukung pembangunan nasional, serta berbagai kegiatan kemahasiswaan yang menumbuhkan karakter kepemimpinan, nasionalisme, kedisiplinan, kepedulian sosial, dan semangat pengabdian kepada masyarakat.
LPPM UNSRI juga menilai keberadaan Indeks Implementasi Bela Negara dapat menjadi instrumen yang efektif untuk mendokumentasikan, mengukur, dan mengevaluasi berbagai aktivitas yang telah dilaksanakan perguruan tinggi, sehingga implementasi nilai-nilai bela negara dapat dipetakan secara lebih sistematis, terukur, dan berkelanjutan.*
