![]() |
| Direktur Penerangan Agama Islam (Penais) Kementerian Agama RI, Mukhlis Muhammad Hanafi saat berada di Palembang. Foto: IST) |
PUYANG - Direktur Penerangan Agama Islam (Penais) Kementerian Agama RI, Mukhlis Muhammad Hanafi, mengingatkan para Penyuluh Agama Islam di Sumatera Selatan agar siap menghadapi dampak krisis global yang mulai dirasakan masyarakat.
Menurutnya, konflik geopolitik dunia, termasuk ketegangan di Timur Tengah dan fluktuasi ekonomi global, telah memengaruhi pasokan energi dan stabilitas ekonomi berbagai negara. Dampaknya, kenaikan harga energi dan tekanan terhadap anggaran negara berimbas pada daya beli masyarakat.
“Dunia sedang tidak baik-baik saja. Dampak ekonomi dan sosial ini akan menjadi ujian bagi masyarakat. Di sinilah peran terbesar penyuluh sebagai representasi negara: hadir mendampingi masyarakat, menjadi pelita, dan memberikan edukasi agar warga tidak panik atau terprovokasi informasi yang tidak jelas,” ujar Mukhlis di Palembang, Rabu (4/3/2026).
Mukhlis menekankan pentingnya perubahan pendekatan komunikasi dakwah. Ia menilai masyarakat mulai jenuh dengan metode ceramah yang hanya berfokus pada teks tanpa menyentuh realitas sosial.
Penyuluh, kata dia, harus mampu menjelaskan program prioritas pemerintah secara jernih dan proporsional. Selain itu, mereka juga dituntut aktif di ruang digital untuk menangkal hoaks dan informasi yang memecah belah.
“Dibutuhkan keahlian dalam membuat konten dakwah yang relevan dan menyejukkan,” tegasnya.
Untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia, Direktorat Penais tengah menyusun kurikulum pelatihan yang menyesuaikan dengan tantangan zaman.
Mukhlis mengungkapkan, pada April mendatang akan ada pertemuan penting antara Menteri Agama RI dengan pihak Mesir.
Salah satu agenda kerja sama tersebut adalah pelatihan bagi dai dan penyuluh agama.
“Ini peluang besar bagi kita untuk meningkatkan wawasan keagamaan yang moderat dan berstandar global,” ungkapnya.
Kerja sama internasional ini diharapkan membuka kesempatan bagi penyuluh terpilih untuk mengikuti pelatihan tingkat lanjut guna memperkuat kompetensi dan kapasitas dakwah yang adaptif.
Senada dengan arahan tersebut, Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Sumsel, Syafitri Irwan, menegaskan pentingnya menjaga Sumatera Selatan sebagai daerah dengan status zero conflict.
Ia berharap para penyuluh di 17 kabupaten/kota terus menjadi penyejuk dan penenang di tengah masyarakat serta konsisten menyebarkan nilai kebaikan.
Kegiatan pembinaan ini turut dihadiri sejumlah pejabat Kementerian Agama dan diikuti oleh Penyuluh Agama Islam fungsional maupun honorer se-Sumatera Selatan, baik secara luring maupun daring melalui Zoom Meeting. (Ril)
