![]() |
Akademisi UNSRI, Muhammad Rifqi Farisi, M.I.Kom. (Foto: Dok) |
PUYANG - Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM), khususnya Pertamax, kembali memicu reaksi keras dari masyarakat.
Di berbagai media sosial, kolom komentar dipenuhi keluhan, kritik, hingga ungkapan kemarahan dari warga yang merasa beban hidup semakin berat.
Bagi sebagian pihak, reaksi tersebut dianggap berlebihan. Namun jika ditinjau dari perspektif ilmu komunikasi, emosi masyarakat yang memuncak justru merupakan respons yang dapat dipahami.
Pertamax bukanlah produk yang bersifat sekunder bagi sebagian besar masyarakat. Bagi jutaan pengguna kendaraan bermotor, bahan bakar merupakan kebutuhan sehari-hari yang berkaitan langsung dengan mobilitas, pekerjaan, pendidikan, hingga aktivitas ekonomi keluarga.
Ketika harga bahan bakar naik, dampaknya tidak hanya dirasakan saat mengisi tangki kendaraan, tetapi juga memengaruhi biaya transportasi dan harga berbagai kebutuhan lainnya.
Dalam kajian komunikasi, kondisi ini dapat dijelaskan melalui teori persepsi dan teori respons afektif.
Teori persepsi menjelaskan bahwa masyarakat menafsirkan suatu peristiwa berdasarkan pengalaman dan kondisi yang mereka hadapi.
Ketika masyarakat sudah mengalami tekanan ekonomi akibat meningkatnya harga kebutuhan pokok, kenaikan harga BBM akan dipersepsikan sebagai tambahan beban yang memperburuk situasi.
Sementara itu, teori respons afektif menjelaskan bahwa pesan atau informasi yang diterima individu dapat memunculkan reaksi emosional tertentu.
Dalam konteks kenaikan harga Pertamax, informasi mengenai kenaikan harga tidak hanya dipahami secara rasional sebagai kebijakan ekonomi, tetapi juga diterjemahkan secara emosional sebagai ancaman terhadap stabilitas ekonomi rumah tangga. Akibatnya, muncul perasaan kecewa, cemas, bahkan marah.
Selain itu, media sosial memiliki peran penting dalam memperkuat ekspresi emosi publik. Fenomena ini dapat dijelaskan melalui teori spiral penguatan opini.
Ketika seseorang melihat banyak orang lain mengeluhkan kondisi yang sama, ia cenderung merasa bahwa pendapatnya juga valid untuk disampaikan.
Akibatnya, ekspresi kemarahan dan kekecewaan dapat menyebar dengan cepat dan menciptakan gelombang opini publik yang besar.
Kemarahan masyarakat juga tidak dapat dilepaskan dari kondisi nilai tukar rupiah yang terus mengalami tekanan terhadap dolar Amerika Serikat.
Melemahnya rupiah berdampak pada meningkatnya biaya impor dan berbagai komponen ekonomi lainnya yang pada akhirnya dapat berpengaruh terhadap harga energi.
Dalam situasi seperti ini, masyarakat sering kali merasakan dampaknya secara langsung melalui kenaikan harga barang dan jasa.
Oleh karena itu, emosi masyarakat yang memuncak sebaiknya tidak dipandang semata-mata sebagai bentuk ketidakpuasan, melainkan sebagai sinyal komunikasi publik yang menunjukkan adanya kegelisahan sosial dan ekonomi.
Dalam perspektif komunikasi, ekspresi emosi tersebut merupakan bagian dari proses penyampaian pesan masyarakat kepada para pengambil kebijakan.
Pada akhirnya, tantangan terbesar bukan hanya pada kenaikan harga itu sendiri, tetapi juga bagaimana komunikasi kebijakan dilakukan secara transparan, empatik, dan mampu menjelaskan alasan di balik setiap keputusan.
Ketika komunikasi berjalan dengan baik, masyarakat akan lebih mudah memahami situasi yang terjadi meskipun tetap merasakan dampak dari kebijakan tersebut.
Penulis: Muhammad Rifqi Farisi, M.I.Kom - Dosen Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Sriwijaya
